Karena Langka, Harga Garam di Pasar Meroket 150 Persen

Jakarta, Matangasa – Rendahnya distribusi garam konsumsi menyebabkan harga garam di pasaran meroket sampai 150 persen dari harga awal Rp. 2.000 menjadi Rp. 5.000 per bungkus. Keadaan seperti ini telah terjadi sejak lebaran kemarin.

Robi (40) sebagai salah satu pedagang sembako mengaku bahwa kini garam meja yang bisa  ia jual dengan merek D5 dan cap laba-laba yang sebelumnya tak pernah dipilih. Justru harga garam dengan merek tersebut sekarang bisa mencapai 150 persen menjadi Rp. 5000 per bungkus.

Keberadaan garam saat ini bisa terbilang sulit. Saat ini kami menjual garam merek D5 dan laba-laba dengan harga Rp. 5.000 per bungkus, padahal sebelumnya kami tidak pernah menjualnya,” Terang Robi saat diwawancarai Liputan6.com di Pasar Grogol, Jakarta Barat, Jumat (4/8/2017).

Robi mengaku bahwa sejauh ini garam meja yang telah dijualnya dengan kualitas sedikit bagus yaitu merek dolpin, refina, dan kepiting dengan harga Rp 4.500 per bungkus.

“Tapi kami terpaksa menjual garam merek D5 dan laba-laba karena barang yang biasa kami jual tidak ada. Sempat ada kabar, sebelumnya harga garam tersebut tembus Rp 8.000 per bungkus,” tuturnya.

Selain itu, garam bata juga mengalami kebaikan signifikan dari Rp 11.000 menjadi Rp 23.000 sampai Rp 24.000bper pak. Seetiap pak berisi 10 balok garam bata. Itu pun, ungkap Robi, barangnya sudah sulit ditemukan di pasaran karena jumlahnya yang terbatas.

“Sebetulnya garam bata itu bentuknya agak kasar, dan yang menjadi garam favorit tetap garam dolpin, kepiting, serta refina sebab lebih halus dan lebih putih. Namun, dikarenakan  barangnya yang langka mau tidak mau jual garam yang ada’” ungkapnya.

Lebih lanjut Robi menerangkan bahwa permintaan garam konsumsi saat ini melonjak tinggi, dan tidak mungkin restoran atau rumah makan mengirit menggunakan garam untuk keperluannya. Sehingga mereka berpindah dari pasaran ke pasar demi mendapatkan persediaan garam.

Baca Juga :  Bitcoin Dalam Perspektif Islam. Bolehkah ?

“Betul, garam merek refina kami jual bisa sampai 10 bal atau 20 bungkus garam dalam jangka waktu satu minggu karena warteg dan restoran itu kan tidak bisa mengirit,’ ungkap Robi.

Robbi mengatakan bahwa ini pertama kalinya harga garam melonjak sampai tinggi seperti sekarang. Bisa jadi ini disebabkan oleh faktor cuaca. “Saya rasa ini baru pertama kalinya. Walaupun kabarnya pemerintah akan mengimpor bakan baku garam konsumsi, saya kurang tahu garam akan kembali normal atau tidak,” ungkapnya.

Hal yang sama dikatakan Walibi (32), pria asal Klaten. Para pedagang di pasar Grogol pun hanya bisa menjual garam meja D5 dan laba-laba.

“Stok yang tersedia sekarang hanya garam D5 dan laba-laba dengan harga mulai dari Rp 2.000 menjadi Rp. 5000. Wong yang merek kepiting tidak ada sama sekali, padahal lebih cepat laku,” tegasnya.

Keadaan pasokan garam yang langka dan kenaikan harga ini, menurut Walibi sudah terjadi pasca lebaran. “Habis lebaran, barangnya mulai tidak ada, harga pun semakin naik. Distribusi mandet karena cuaca, “ pungkas Walibi.

Kondisi kelangkaan pasokan garam dan kenaikan harga, kata Walibi sudah terjadi setelah Lebaran. “Habis Lebaran mulai tidak ada barangnya, harga pun makin mahal. Pasokan seret karena cuaca,” pungkas Walibi.

(os/af).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *