Mahasiswa ITB Ciptakan Zephyrus, Aplikasi Android Pencegah Banjir

Bandung, Matangasa –Masalah banjir di beberapa wilayah di Indonesia menjadi persoalan tiap tahun. Banyak langkah penyelesaian yang telah dibuat oleh pemerintah serta masyarakat. Akan tetapi, banjir masih menjadi hantu tahunan yang menakutkan di saat musim hujan tiba.

Atas persoalan tersebut, beberapa mahasiswa di Bandung secara berkelompok membuat Zephyrus, sebuah sistem pengantar pesan cuaca dan ketinggian air sungai melalui aplikasi android serta SMS satelit.

Para mahasiswa ITB mengembangkan sistem tersebut dengan memiliki Automatic Water Level Recorder-Weather Station (AWLR-WS) sebagai alat deteksi cuaca.

Setelah sensor pada alat AWLR-WS ini menerima data cuaca dan ketinggian air, data akan dikirim ke server yang akan menyebarluaskan informasi tersebut melalui aplikasi android dan SMS satelit.

Pengembang sistem ini terdiri dari beberapa mahasiswa ITB di antaranya Ahmad Wirantoaji Nugroho, Andryansah Bagas Warno Putra, Aufa Zalfarani Saprudin, Harry Alvin Waidan Kefas, dan Novianti Rossalina.

Ahmad Wirantoaji, salah satu mahasiswa pengembang sistem tersebut mengungkapkan bahwa ide Zephyrus ini bermula dari sebuah keprihatinan. “Yang mendorong sih sebenarnya karena prihatin (dengan) banjir di Bandung Selatan. Kalau secara umum, banjir memang sering terjadi di Indonesia. Dan usaha mengantisipasi banjir itu sendiri masih jauh dari optimal,” ungkap Ahmad seperti dilansir dari laman ITB, Sabtu (12/8/2017).

Pemanfaatan teknologi android sebagai media utama penyebaran informasi, mahasiswa jurusan Meteorologi itu pun beralasan karena android lebih mudah menjangkau pengguna. “Nah itu, jadi ya salah satu alasan menggunakan aplikasi Android ini supaya bisa lebih cepat dan real time,” ungkapnya.

Selain itu, kelebihan lainnya dari alat ini ialah lebih praktis dan mudah dibandingkan alat-alat serupa yang terpasang sebelumnya. karena, Zephyrus ini merupakan penggabungan dua alat sekaligus.

Baca Juga :  Aksi Bullying Jangan Jadi Momok Menakutkan Bagi Mahasiswa Baru

“Alat AWLR-WS ini dipakai, jadi bisa menekan penggunaan anggaran gitu. Kalau misalnya yang biasa dibuat itu sekitar 73 jutaan, sedangkan yang kita keluarkan itu hanya sekitar 7,7 juta jadi bisa menghemat,” tegasnya.

Ahmad mengatakan bahwa bencana banjir akan mudah terantisipasi apabila beberapa alat AWLR-WS dipasang di titik-titik yang berbeda. “Nah, bayangkan dengan biaya pengeluaran yang sama, kita bisa meletakkan sembilan alat AWLR-WS di sembilan titik yang berbeda,” jelasnya.

Ia berharap ide yang dibawanya saat ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) mampu menjadi alat yang dapat bermanfaat langsung bagi masyarakat. “Kami memang ingin membuat alat yang dapat bermanfaat langsung di masyarakat,” tandasnya.

(os/af)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *