Kelas Rasa Lapas : Akibat Dehumanisasi dan Deesensialisasi Manusia sebagai Homo Educandum dalam Lunturnya jati Diri Bangsa

Oleh : Asep Ikbal

Bandung, Matangasa -Sekolah adalah kebosanan yang terus mendera. Setiap anak bahkan kita yang pernah mengalami masa-masa sekolah mulai dari sekolah dasar hingga pendidikan tinggi tentu pernah merasakan kebosanan tersebut. Mengapa kebosanan itu dapat timbul? Bagaimana tidak, manusia adalah makhluk yang mudah bosan dengan sesuatu yang terus dilakukan secara monoton.

Bayangkan saja, sejak dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi, kebanyakan potret pendidikan yang terbentuk adalah pola yang sama terutama pada pendidikan formal. Peserta didik berangkat dari rumah menuju sekolah, kemudian duduk, belajar di kelas, mendengarkan guru menjelaskan, mengerjakan tugas dan pulang. Begitulah rata-rata kegiatan sekolah di negara kita, para peserta didik belajar dengan dibatasi oleh tembok-tembok dan suasana yang begitu-begitu saja.

Peserta didik bagaikan tahanan yang dipenjarakan, terkurung bagaikan burung, para intelektual yang mengaung dengan keilmuannya namun sayang hanya di dalam kandang. Kita boleh tidak sepakat jika dikatakan bahwa sekolah bagaikan lapas atau penjara yang membatasi gerak pengetahuan, mungkin kita juga mengatakan bahwa sekolah adalah Kawah Chandradimuka yang menggodok manusia untuk menjadi pribadi yang unggul.

Di era milenial ini, orang-orang kian berbondong-bondong bahkan berjejal-jejal mendaftarkan anaknya untuk bersekolah tanpa sebagian dari kita baik peserta didik, pendidik maupun orang tua pernah bertanya-tanya, sebenarnya untuk apa kita sekolah? Untuk apa kita melakukan pendidikan? Apakah tanpa sekolah dan pendidikan kita tidak dapat mencapai yang seharusnya?

Nampaknya sederhana pertanyaan tersebut, namun sebagian besar akan menjawab bahwa tujuan bersekolah dan mengikuti pendidikan agar sukses di masa yang akan datang, agar bisa mencapai cita-cita bahkan juga mungkin ada yang hanya ikut-ikutan dan terjebak propaganda komersialisasi pendidikan. Pertanyaan esensial ini yang sering kali kita sepelekan, sehingga tidak jarang pendidikan hanya dijadikan sebagai tren atau gaya hidup dalam mencari eksistensi tapi meninggalkan makna dari pendidikan itu sendiri yang bersifat esensial.

Alasan mengapa manusia memerlukan pendidikan karena tabiatnya sebagai makhluk yang memerlukan pendidikan atau homo educandum. Pendidikan diperlukan oleh manusia dikarenakan dua hal yakni dia sebagai makhluk individu dan sebagai makhluk sosial

Sebagai makhluk individu, manusia memerlukan sarana untuk menumbuhkan dan mengembangkan berbagai potensi yang dimilikinya baik potensi yang bersifat jasmani maupun rohani sehingga akan menjadi manusia yang berkualitas, kedua dalam dimensi manusia sebagai makhluk sosial yang tentu tidak akan lepas dari peran-peran sosialnya, dengan berbagai potensi yang telah dimiliki melalui kontribusi pendidikan yang diikuti untuk memajukan peradaban bangsa bahkan dunia.

Pendidikan juga diperlukan oleh manusia sebagai bagian dari masyarakat karena harus adanya pewarisan nilai-nilai dari generasi di atasnya kepada generasi di bawahnya agar kebudayaan dan nilai-nilai adat istiadat dapat tetap terjaga. Itulah setidaknya jawaban singkat kenapa kita selaku manusia harus sekolah dan menempuh pendidikan, semuanya untuk kebermanfaatan bersama sebagai esensi pendidikan.

Bagaimana dengan realitas yang terjadi dewasa ini dalam membangun konsepsi pendidikan secara nasional? Setidaknya ada tiga gejala yang nampak dalam pembangunan sistem pendidikan nasional akhir-akhir ini. Pertama adalah materialisme yang mempengaruhi nilai-nilai dalam dunia pendidikan. Faham materialis yang hanya mengakui bahwa yang ada hanyalah hal-hal yang bersifat materi dan tidak mengakui entitas-entitas lain yang non-materi, goib atau transendental seperti roh, Tuhan, setan, malaikat dan sebagainya semakin banyak mempengaruhi manusia dewasa ini termasuk dalam dunia pendidikan. Tidak jarang orang melaksanakan jenjang pendidikan dengan hanya bertujuan mencapai gelar dan ijazah saja agar dapat melamar pekerjaan yang dianggap layak atau menaikkan pangkat, bukan ilmu yang dicari.

Kedua adalah pendidikan yang terjebak dengan angka-angka dan embel-embel. Sebenarnya pendidikan Indonesia itu milik siapa? Milik kita sebagai pemilik negara ini atau hanya milik segelintir orang saja? Dalam praktek di dunia pendidikan dewasa ini dengan pembaharuan-pembaharuan dan perubahan-perubahan sistem kurikulum, mungkin bagi para praktisi pendidikan utamanya di jenjang dasar dan menengah sering mendengar keluhan guru-guru “zaman sekarang ribet, banyak administrasi”, “bagaimana mau mendidik dengan benar, kalau di kasih banyak pekerjaan, memangnya pekerjaan mendidik itu mudah?” atau “kalau begini ceritanya harusnya guru di kelas itu jangan 1 tapi 2 bahkan 3 orang agar bisa saling memback up” bahkan ada juga yang berkata “kalau begini terus dan membuat ribet, lebih baik pensiun dini saja lah “ serta berbagai unek-unek lainnya.

Baca Juga :  Pemerataan Pendidikan Negara Kesatuan

Itulah secuil respon yang timbul dari para eksekutor pendidikan di Indonesia, tuntutan sistem yang ideal menurut si pembuat kebijakan namun banyak faktor yang belum mampu dan kurang representatif akhirnya terjadilah benturan antara das sein dan das sollen itu sebagai suatu masalah.

Mengapa kita harus membohongi diri sendiri, menutupi ketidakmampuan bangsa kita dengan tipuan angka-angka sebagai indikator pencapaian? Kualitas pendidikan tidak melulu diukur dengan angka-angka di atas kertas, distribusi keadilan pendidikan masih menjadi problematika di republik ini.

Begitupun dengan kampus-kampus yang terjebak pada paradigma yang sama dengan embel-embel yang macam-macam itu seperti World Class University atau Riset University yang juga sama-sama “memenjarakan” peserta didik dengan kurang memperhatikan dan fokus kepada pembangunan kualitas peserta didiknya sebagai homo educandum, namun lebih fokus pada akreditasi dan predikat yang sebenarnya hanyalah penilaian sebagai evaluasi untuk terus melakukan perbaikan dalam penyelenggaraan pendidikan.

Ketiga adalah primordialisme pendidikan yang masih dipertahankan. Tidak sedikit dalam penyelenggaraan pendidikan yang menempatkan siswa, mahasiswa atau peserta didik sebagai objek yang harus terus menerima. Pola-pola primordialis itu tentunya tidak akan cocok jika terus dipaksakan untuk diterapkan mengingat pesatnya laju kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, artinya dalam proses pembelajaran harus dikemas secara menarik tanpa menghilangkan substansi dari tujuan pembelajaran itu sendiri.

Proses pendidikan bukan hanya menyoal masalah transfer of knowledge saja, namun lebih dari itu adalah bagaimana membentuk pola pikir dan pengalaman belajar bagi peserta didik. Membangun pola piir atau lingua franca itu bukanlah suatu proses yang mudah dan cepat karena bersifat begitu abstrak, namun lingua franca inilah yang akan membuat peserta didik mampu berfikir secara adil, konsekuen dan rasional. Adapun pengalaman belajar itu adalah sesuatu yang mungkin tidak akan terlupakan seumur hidupnya, artinya memberikan kesan yang berisi pesan dari guru yang memberikan teladan kepada pendidik itulah yang diperlukan.

Dari kesalahan membangun paradigma tersebut diatas berimbas pada berbagai sektor kehidupan, secara garis besar ada tiga variabel yang menjadi pokok dari semua akibat kongkrit yang timbul, pertama adalah sumber daya manusia yang tercipta begitu banyak namun memiliki kompetensi dan kualitas yang terkadang masih di bawah raa-rata.

Hal ini tentulah bukan suatu yang terjadi secara alamiah, kita dapat melihat begitu banyaknya sarjana dewasa ini, namun tidak sedikit yang setelah lulus dari kampusnya mengalami suatu alienasi dengan lingkungan yang sebenarnya yakni masyarakat. Sebagiannya mengalami shock sosial bahkan sebagian lagi mengalami distorsi. Artinya ada proses-proses yang tidak sempurna dan bahkan diabaikan.

Kedua adalah degradasi kreatifitas sumber daya manusia yang tercipta. Era konsumerisme telah membunuh kreatifitas dan kerja keras seseorang jika tidak mampu memainkannya. Tidak banyak dewasa ini sekolah-sekolah yang masih mengajarkan cara menggunting, menjahit, menanam, membuat kerajinan, bertani dan hal-hal yang dikatakan “tidak efektif” itu, lebih banyak yang suka memiliki sesuatu dengan cara membeli dan menganggap bahwa semuanya dapat dibeli, sehingga krisis identitas itupun terjadi, mungkin bangsa Indonesia hari ini hanya mengenal diri mereka melalui apa yang mereka gunakan.

Hal terakhir adalah terciptanya budaya praktis yang mematikan semua. Pola hidup yang semuanya serba praktis lambat laun akan menjadi pembunuh yang ganas dan membunuh semua karena dengan sikap praktis itu akan mengabaikan proses-proses yang seharusnya dilewati.

Baca Juga :  Jangan Pilih Calon Presiden Berpendidikan Rendah

Tidak sedikit yang sekarang menempuh pendidikan dengan cara membeli ijazah namun tidak sekolah atau kuliah sebagaimana seharusnya, tidak sedikit yang makan dengan tinggal membeli saja tanpa mau memasak apalagi harus menanam dan menyediakan bahan-bahan makanan, itu semakin jauh. Yang terparah adalah budaya praktis ini menciptakan ancaman dan perilaku menyimpang lainnya seperti terjadinya korupsi, suap menyuap, lobby-lobby. Akibat dari ketiga hal tersebut jika diturunkan ke dalam aspek sosial, ekonomi, hukum, keamanan, dan sebagainya menjadi “hama” yang merusak bahkan menghancurkan.

Lalu apa sebenarnya yang menjadi sebab-sebab yang mendasari hal tersebut dapat terjadi? Jika bicara sebab maka akan sangat banyak mengingat akibat yang ditimbulkanpun tidaklah sedikit dan tidak sederhana. Namun hal yang sederhana dari semua kekacauan ini adalah rasa gengsi dan munafik. Rasa-rasanya tidak salah jika Mochtar Lubis dalam bukunya yang berjudul “Manusia Indonesia” mengatakan bahwa salah satu ciri orang Indonesia adalah Munafik.

Kita sebagai orang Indonesia terlalu munafik dengan semua realitas yang kita miliki sebagai suatu bangsa yang diam di wilayah dimana Tuhan menciptakannya ketika Tuhan sedang tersenyum sebagaimana dikatakan Benedict Anderson. Sifat munafik itu ada tiga cirinya, apabila bicara dia bohong, apabila berjanji dia ingkar dan apabila diberi amanah dia khianat, tentu tidak usah dijelaskan satu persatunya, setiap kita sudah bisa menerjemahkannya.

Kondisinya semakin buruk bukan hanya ketika kita membohongi orang lain namun kita rela membohongi diri sendiri, kondisi inilah yang nampak dalam kehidupan kita orang Indonesia, semuanya ditunjukkan dengan angka-angka dan data-data, mengenai tingkat kesejahteraan, tingkat pendidikan, kepuasan masyarakat terhadap pemerintah namun kemiskinan masih banyak, kebodohan dan keterbelakangan tidak bisa dirahasiakan termasukpun distrust dan skeptis masyarakat terhadap pemerintah yang kian meluap. Sudah tentu orang kelaparan tidak bisa makan data-data, orang mengalami keterbelakangan dan kebodohan tidak bisa cerdas dengan angka-angka, grafik dan kurva-kurva, bangsa ini tidak seketika sejahtera dengan data tingkat kesejahteraan di atas rata-rata.

Hari ini orang Indonesia sedang merayakan dan berpesta-pesta di atas kepalsuan yang melemahkan. Seakan-akan kita berada dalam kemajuan padahal sebagiannya hanyalah manipulasi saja, seakan-akan kita merayakan demokrasi namun kesengsaraan dan penindasan secara halus masih terus terjadi. Kita orang Indonesia tidak akan tahan terus hidup di atas kepalsuan dan kenaifan ini, lambat laun kita akan merubah itu semua atau mungkin lambat laun juga kita akan habis.

Pembangunan-pembangunan yang dilakukan sebagian besarnya bukan untuk kesejahteraan rakyat, siapa yang sejahtera? Barangkali kita mendengar tentang kekayaan 4 orang taipan Indonesia yang sebanding dengan kekayaan 100 juta orang Indonesia, sungguh perbandingan yang tidak main-main.

Para sarjana kita seakan-akan “dicetak” untuk melayani nafsu rakusnya para kapitalis, menjadi pembersih kotoran orang asing di negara kita sendiri. Sungguh kita sedikitnya lupa dengan kedaulatan dan kemandirian yang seharusnya kita malu atas peningkatan angka-angka kesejahteraan tanpa dibarengi kedaulatan.

Pertanyaan selanjutnya mengapa kita harus lebih memilih menjadi bangsa yang gengsian daripada berpacu pada kemajuan? Mengapa kita malu dan seakan tidak sanggup menerima realitas bangsa dan negara ini? Mengapa kita lebih senang menipu diri kita bukan menciptakan kemajuan yang sebenarnya?

Untuk menjadi bangsa yang berwibawa dan dihormati oleh bangsa-bangsa lain di dunia bukanlah dengan gengsi namun dengan melakukan yang sebenar-benarnya mengarah pada kemajuan peradaban. Kita hanya mendengar bahwa negara kita adalah negara yang berpengaruh di dunia, ya berpengaruh karena kita adalah pasar bagi produk-produk negara lain bukan karena kita mampu bersaing dalam mempengaruhi ekonomi negara lain secara kompetitif.

Asumsi dasar bahwa pendidikan adalah entitas yang sangat penting dalam pertumbuhan atau kemunduran suatu negara karena melalui aspek inilah terciptanya kader-kader bangsa yang kemudian akan melakukan revolusi pembangunan secara proporsional. Suatu anagium mengatakan bahwa jika ingin menghancurkan suatu bangsa maka rusaklah pendidikannya, jika ingin merusak pendidikan maka rusaklah peserta didiknya, jika ingin merusak peserta didik maka rusaklah kualitas gurunya, jika ingin merusak kualitas gurunya maka rusaklah kualitas perguruan tinggi pencetak gurunya.

Baca Juga :  Menyoal Akar Permasalahan Bangsa Indonesia

Sebagai salah satu penghasil maka pergurusan tinggi penghasil guru menjadi entitas-entitas sangat penting di samping entitas lain yang juga berkontribusi dalam penyelenggaraan pendidikan. Dalam satu sisi memang sistem pendidikan yang merupakan hasil dari kebijakan sangatlah penting namun seideal apapun sistem itu jika tidak dapat disambut oleh para eksekutor pendidikan maka hasilnya sudah bisa ditebak.

Proses pembentukan para calon guru di perguruan tinggi sangatlah harus diperhatikan terutama soal kualitas dan kompetensi, sehingga tidak salah jika ada anggapan dewasa ini bahwa pendidikan semakin dilemahkan yang secara konspiratif merupakan langkah strategis pelumpuhan kekuatan negara.

Peserta didik di negara kita sebagian besarnya terutama di wilayah perkotaan hanya mengenal pendidikan selalu di dominasi di dalam kelas, berbeda dengan saudara-saudara kita yang berada di daerah pedalaman yang tidak ada kelas disana. Siswa hanya belajar tentang sawah, hutan, irigasi dari buku. Masih begitu banyak situasi belajar yang menciptakan kondisi kelas bagaikan lapas yang minim kreatifitas, para sarjana ketika terjun ke masyarakat hanya bisa melongo karena hanya mengetahui dari teori sedangkan masyarakat tidak butuh teori tapi butuh solusi yang sederhana.

Berkaca ke Finlandia dan New Zeland yang kualitas pendidikannya adalah yang terbaik di dunia hanya berbeda dalam proses pembelajaran yang lebih terbuka, rileks, dialogis dan membangun hubungan yang erat antara peserta didik dengan dosen atau guru.

Apakah hal seperti itu dapat diterapkan di negara kita ini? Hal yang tersulit adalah keluar dari zona pemikiran yang mainstream dan primordialis soal penyelenggaraan pendidikan. Soal kursi yang berjejer rapi ke pinggir dan belakang, guru selalu di depan, semuanya harus seragam, punishment yang lebih dominan daripada reward dan hal-hal normatif lainnya, sehingga ketika mereka selesai dari sekolah atau perguruan tinggi itu bidang-bidang yang diminati adalah sektor-sektor pengelolaan saja seperti birokrasi, perbankan, mengajar, ahli IT, arsitek dan lain-lain.

Hal tersebutlah yang menyebabkan sangat jarang yang bercita-cita menjadi seorang petani, sangat jarang yang bercita-cita menjadi seorang peternak, sangat jarang yang bercita-cita menjadi seorang penjahit, mengapa demikian? Karena mereka tidak pernah belajar di sawah, karena mereka tidak pernah belajar di peternakan, karena mereka jarang bahkan tidak pernah membuat pakaian sendiri kecuali membeli. Bayangkan apa yang akan terjadi jika terus demikian? Manusia-manusia Indonesia hanya bekerja pada sektor-sektor pengelolaan saja, semuanya akan serba impor, beras, buah-buahan, daging, pakaian bahkan garam.

Kalau begini terus tentu kita akan membayangkan bagaimana jadinya bangsa kita sepuluh atau dua puluh tahun lagi? Apakah benar Indonesia emas itu akan datang? Apakah generasi emas itu adalah generasi yang brilian atau yang akan mengeruk emas sebagai kekayaan alam Indonesia? Rasa-rasanya kita harus jadi bangsa yang jujur dan mulai kembali membangun dengan memperhatikan kualitas baik pembangunan fisik maupun non fisik.

China rela menjadi bangsa yang terisolir berpuluh-puluh tahun demi menempa dirinya agar menjadi bangsa yang berkualitas dengan politik tirai bambunya hingga menjadi bangsa yang semakin ditakuti dewasa ini termasuk oleh sang adidaya. Sebelum terlambat mari kita jujur dalam melakukan pembangunan karena pendidikan adalah kunci pembangunan peradaban bukan alat penindasan.

(af)

One thought on “Kelas Rasa Lapas : Akibat Dehumanisasi dan Deesensialisasi Manusia sebagai Homo Educandum dalam Lunturnya jati Diri Bangsa

  • September 10, 2017 at 8:50 am
    Permalink

    Masif, sistematif pada kedudukannya sbg opini..
    Boleh senang dibaca..

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *