Kurikulum Politik : Pendidik dan Pemimpin

Oleh : Tubagus Saputra, S.Pd

(Mahasiswa SPs PKn Universitas Pendidikan Indonesia)

MATANGASA, Bandung -Betapa pun politik itu merupakan sesuatu yang baik, namun apabila sesuatu yang baik ini tidak direncanakan bisa jadi malah menjadi tidak baik. Di dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara ini sebagai insan yang mengalami serangkaian proses pendidikan tentu saja perlu memiliki rencana-rencana di dalam menjalani dan menghadapi kehidupan ini. Ada pepatah “lebih baik merencanakan, lalu gagal. Daripada gagal merencanakan ”  sebab gagal merencanakan itu sama artinya dengan merencanakan kegagalan. Itulah sebabnya mengapa perlu dirumuskan suatu kurikulum politik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara ini.

Apa itu kurikulum politik ? bila dicermati maka, terdapat dua konsep dalam hal ini yakni, kurikulum dan politik. Pertama, adalah kurikulum. Menurut Toto Ruhimat dkk (2013, hlm.2)  bahwa :

Istilah kurikulum (curriculum)  berasal dari kata curir  (pelari) dan curere (tempat berpacu), dan pada awalnya digunakan dalam dunia olahraga. Pada saat itu kurikulum diartikan sebagai jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari mulai dari start  sampai finish untuk memperoleh medali/penghargaan. Kemudian, pengertian tersebut diterapkan dalam dunia pendidikan menjadi sejumlah mata pelajaran (subject) yang harus di tempuh oleh seorang siswa dari awal sampai akhir program pelajaran  untuk memperoleh penghargaan dalam bentuk ijazah.

Pendapat lain dikemukan oleh Saylor, Alexander, dan Lewis (dalam Ruhimat, 2013, hlm.2) bahwa kurikulum “sebagai segala upaya sekolah untuk memengaruhi siswa supaya belajar, baik dalam ruang kelas, di halaman sekolah, maupun di luar sekolah”. Kedua, adalah politik. Menurut Miriam Budiardjo dalam bukunya Dasar-Dasar Ilmu Politik (2010, hlm.13) politik adalah usaha menggapai kehidupan yang baik. Dengan demikian maka, bila dikorelasikan pengertian-pengertian tersebut dapat di tarik simpulkan sementara bahwa yang dimaksud dengan kurikulum politik adalah suatu usaha atau proses mempengaruhi yang harus ditempuh seseorang untuk memperoleh kehidupan yang baik.

Baca Juga :  Berkuasa dari Hasil Pemilu

Usaha atau proses mempengaruhi dalam hal ini haruslah terrencana dan sistematis agar dapat menghasilkan kebahagian yang bersifat masif yakni untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.  Rakyat harus dipersiapkan dengan sebaik-baiknya agar memiliki kesadaran politik atau melek politik (political literacy) di dalam dirinya.  Untuk menggapai hal tersebut maka, kita sekarang berbicara soal Pendidik dan Pemimpin yang merupakan ujung tombak dalam rangka usaha memasuki pintu gerbang kemerdekaan. Pendidik dan Pemimpin disini adalah orang-orang yang merencanakan atau mempersiapkan rakyat agar memiliki kesadaran atau kemelekan politik (political literacy).

Pendidik (Politik)

Menurut Robert Brownhill dan Patricia Smart (1989, hlm.103) bahwa : The Political educator must decide on the sort knowledge that would be appropriate for political education and the sort skills that would need to be imparted if a pupil were going to stand a chance of participating succesfully in politics. (para Pendidik politik harus menentukan berbagai pengetahuan yang dapat bermanfaat bagi pendidikan politik dan berbagai macam keterampilan yang akan dijadikan pegangan untuk berpartisipasi secara sukses dalam politik).

Kemudian menurut Mohomad Surya (2014) bahwa seorang pendidik atau guru memilik peran sebagai manajer pembelajaran yang mengelola keseluruhan kegiatan pembelajaran dengan mendinamiskan seluruh sumber-sumber penunjang pembelajaran dengan kata lain guru sebagai pengembang kurikulum (curriculum developer). Oleh sebab itu, maka bagi para pendidik politik, agar dapat membuat rakyat menjadi memiliki kesadaran atau kemelekan politik (political literacy) haruslah ia mempertimbangkan berbagai macam pengetahuan dan keterampilan yang secara politik mendidik manusia untuk berkesempatan melaksanakan secara sukses apa yang ada dalam konteks politiknya. Di sinilah moralitas dan etika politik diajarkan kepada rakyat agar menjadi rakyat yang terdidik. Maka dengan demikian, pendidik politik harus mengembangkan berbagai seni pendekatan.

Baca Juga :  Hegemoni Dunia Lewat Narkoba Dalam Meruntuhkan Moral Nasional

PEMIMPIN (Politik)

Menurut Idrus Affandi (2014) pemimpin\ adalah orang-orang yang dilahirkan sesuai dengan zamannya,  yang melihat tanda kemajuan zaman dengan membaca berbagai ayat-ayat kauniah sebagai petunjuk kemajuan zaman. Dinamika kehidupan akan mengasah akal pikir, rasa, dan karsa manusia yang akan memunculkan seorang pemimpin yang mempunyai sikap tegas dan berani tapi santun dalam menghadapi fenomena zaman untuk menciptkan iklim yang senantiasa damai, sejahtera, adil dan makmur dalam mengambil sikap dalam setiap keputusan yang bermakna untuk meningkatkan harkat, drajat, dan martabat bangsanya.

Oleh karena itu, seorang pemimpin itu haruslah yang berilmu dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa agar ia senantiasa sadar bahwa di suatu saat ia akan kembali seperti manusia biasa yang akan dipanggil pulang dan dimintai pertanggungjawaban pula oleh-Nya.

Maka dengan demikian, menurut perspektif penulis seorang pemimpin harus mempunyai ide dan gagasan, harus memiliki kekuatan, harus dapat mengambil keputusan, membuat kebijakan, mendistribusikan dan mengalokasikan ide dan gagasannya itu yang ditujukan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Pemimpin tidak terlahir dengan sendirinya, pemimpin tidak mengadakan dirinya sendiri. Pemimpin harus diciptakan melalui serangkaian proses atau usaha yang dilakukan secara sadar dan terencana dalam rangka memanusiakan manusia oleh para pendidik yang beriman, berilmu dan beramal. Inilah yang dinamakan dengan Kurikulum Politik.

(ar/fe)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *