Belajar Di Atas Sajadah

(Oleh: Mirwan Fikri Muhkam, S.Pd)

IHDINASHIRAATAL MUSTAQIM (BERILAH AKU JALAN YANG LURUS)

Pendidikan adalah eskalator sosial ekonomi merupakan suatu gagasan yang tentunya merupakan intisari pemikiran penulis dalam menghindari distorsi yang dapat menyesatkan di republik ini. Alasan kemanusiaan seperti sosialitas hingga ekonomi merupakan hal yang berpotensi besar membuat seseorang menghalalkan segala cara sehingga bangsa ini akan memiliki slogan “melahirkan Machiavelli-Machiavelli baru”, padahal sebagai bangsa yang berideologi Pancasila dimana tetap mengedepankan esensi ketuhanan yakni tetap pada rel yang sesuai syariat sehingga melakukannya harus dengan cara yang halal. Itulah fitrah manusia sejati!

“Belajar diatas sajadah” adalah sebuah kiasan kata yang menunjukkan betapa pentingnya belajar yang khusyuk. Sebagaimana filosofi sajadah yang ketika dibentangkan maka seketika itu kita akan mengingat Allah, sebab sajadah adalah tempat untuk bersujud. Jika belajar diatas sajadah yang suci, maka keilmuan takkan kita dustakan sehingga ilmu pengetahuan yang dimiliki mustahil disalahgunakan untuk memperdaya orang lain sebab esensi dari ilmu itu adalah melanjutkan dan menumbuhkembangkan peradaban tanpa mengesampingkan keaarifan lokal (local wisdem) budaya nusantara. Namun sekarang ini, kita sedang mengalami keadaan yang menurut Emile Durkheim yang dinamakan anomie yakni suatu keadaan ketika nilai-nilai lama sudah ditinggalkan tetapi nilai-nilai baru belum tumbuh secara kuat sehingga terjadilah pertentangan nilai-nilai yang telah menjamur di tengah masyarakat.

Penulis berasumsi bahwa gejolak yang telah mulai mengakar ditengarai adanya paham atau semi-ideologi di negara kita yang menurut Nu’man Sumantri terdapatnya dua koontinum pemikiran yang saling bertentangan dan sulit untuk dipisahkan dalam konteks bernegara, yaitu seminisme dan hellenisme. Seminisme adalah sebuah pandangan yang mempercayai bahwa kebenaran agama lebih tinggi daripada rasionalitas sedangkan hellenisme sebaliknya, yakni sebuah pandangan yang menganggap bahwa rasionalitas adalah sebuah kebenaran yang mengalahkan agama. Olehnya itu sebagai bangsa yang menghembuskan nafas dibumi pertiwi ini tentunya wajib menyadari betul bahwa Indonesia adalah negara pancasila yang menjunjung nilai-nilai ketuhanan.

Baca Juga :  Pemerataan Pendidikan Negara Kesatuan

Belajar adalah hal yang mulia. Olehnya itu belajar adalah bentuk ketauhitan, selain karena pentujuk yang diberikan dalam agama, belajar pula adalah salah satu janji kemerdekaan yang ada didalam Pembukaan Undang-Undang Dasar NRI 1945 yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Karena ini adalah sebuah janji maka konsekuensinya adalah harus ditepati. Cerdas yang spiritual dan rasional adalah dambaan kita semua sebab untuk mendapatkan jalan yang lurus serta bersaing di percaturan global maka kata kuncinya adalah bangsa kita harus tercerdaskan sehingga kebodohan hingga kemiskinan yang mengancam republik ini akan mudah untuk dijinakkan.

Pada dasarnya praktik belajar yang hakiki menurut Paolo Freire adalah bersikap terhadap dunia sehingga tidak dapat direduksi menjadi sekadar hubungan antara pembaca dengan teks dan sebuah teks hanyalah bentuk refleksi dan mengekspresikan pergulatan penulis dengan dunia. kualitas perilaku belajar (the act of study) tidak dapat dapat diukur dengan jumlah halaman yang dibaca selama satu malam bahkan satu semester.

Belajar bukanlah mengomsumsi ide, namun menciptakan dan terus menciptakan ide sehingga sangatlah penting mengalaborasikan testbook dengan field experience sebab pemahaman ilmu pengetahuan yang sejati adalah menyatunya tindakan dan pikiran yang disebut dengan praxis. Dengan kata lain ‘praxis’ adalah manunggal karsa, kata dan karya, sebab manusia pada dasarnya adalah kesatuan dari fungsi berpikir, berbicara serta berbuat dan jika manusia telah memadukan ketiga hal itu, maka gelar paripurna akan menghampirinya. Namun, disisi lain jika hanya menuhankan bacaan dan pengalaman pribadi maka akan berpotensi menjadi underestimate terhadap orang lain bahkan dapat menjelma menjadi takabbur sebab telinganya tak dapat lagi menerima respon yang seakan kebal saran dan kritik dari orang lain sehingga penulis memiliki sebuah wise quotes yang bernada “pengalaman adalah guru terbaik, tetapi belajar dari orang yang berpengalaman adalah guru yang bijaksana”.

Baca Juga :  Melawan Hoax sebagai Ancaman Era Bonus Demografi Melalui Gerakan Bandung Barat Berdaya

Untuk melahirkan keparipurnaan ‘Manusia Indonesia’ adalah sebuah langkah yang mengharuskan Pemerintah melakukan perjudian dalam langkah kebijakannya dibidang pendidikan yang dibuktikan dengan telah dirubahnya kurikulum pendidikan di Indonesia sebanyak 11 (sebelas) kali dan masih dipertahankannya anggaran pendidikan yakni 20% dari APBN membuat masyarakat seakan merasakan ambivalensi yang dimana berpandangan bahwa keseriusan pemerintah dalam mengikuti perkembangan iptek sudah tak dipertanyakan lagi dan disisi lain adanya pandangan bahwa pemerintah belum mampu menemukan sentuhan magis atau langkah dalam hal mewujudkan visi dari pendidikan Indonesia sehingga membuat tenaga kependidikan dan elemen-elemen lain yang memiliki sangkut paut didunia pendidikan menjadi bingung sehingga dampaknya sangatlah besar kepada peserta didik yang disebabkan oleh adanya beberapa guru yang belum memahami cara kerja kurikulum yang selalu di update padahal hanya pada gurulah kita dapat titipkan persiapkan masa depan republik ini.

Tentunya secara garis besar harapan dari pendidikan di Indonesia adalah melahirkan pribadi yang bijaksana yang tetap memaketkan antara intelektualitas dan religiusitas seseorang sebagaimana visi utama pendidikan yang ingin menciptakan pribadi yang ‘akhlaqul karimah’ dan hal tersebut sesuai dengan penjelasan Mohammad E. Dawood dalam sebuah “Eminence Lecture” tentang makna pendidikan. Dia menyampaikan bahwa pendidikan yang jika diambil pemaknaan dari Al Quran dan Sunnah ini sepadan dengan kata-kata tazkiyah yang artinya pembersihan jiwa dan tazkiyah ini merupakan padanan kata tarbiyah dalam Al Quran merupakan tugas utama para nabi. Maka dari itu tujuan dari tazkiyah tersebut adalah bagaimana meluruskan perilaku serta mengisi akal, akhlak dan kejiwaan manusia untuk membentuk pribadi islami yang paripurna.

Pendidikan memiliki hakikat untuk pembersih jiwa tentunya perlu disadari bersama, sebab hal ini jika disadari maka sifat toleran kita kan terus terjaga dan religusitas kita pula akan terus menyelimuti kalbu sehingga jalan kebenaran dalam hidup ini tetap selalu terbuka serta sterilisasi tindakan dan pikiran akan terpatri kokoh dalam lingkar sanubari sehingga sulit untuk saling mengkhianati jikalau pemaknaan ini dipahami diseluruh elemen masyarakat.

Baca Juga :  Kelas Jadi Horor Tanpa Sang Guru Honor

Belajar, berjuang dan bertakwa adalah sebuah jargon yang sangat pantas dikalaborasikan untuk melahirkan generasi yang Pancasilais. Generasi yang memiliki spirit kebangsaan demi menjawab tantangan bangsa kedepan yang tiap detik kian sengit sehingga tak salah apabila kepemudaan perlu diberdayakan karena memberdayakan pemuda adalah investasi nasional dan akhirat yang takkan pernah ada ruginya. Posisi kepemudaan haruslah disadari betul betapa sentralnya dalam hal mewujudkan tatanan kehidupan yang tercerahkan. Kaum muda merupakan monumental perubahan di republik ini yang mesti terus mendapat perhatian agar bangsa ini dapat bersinergi dan semua itu jawabannya adalah melalui pendidikan.

Pendidikan yang tak memisahkan agama dan negara, pendidikan yang bermartabat, serta pendidikan yang tidak bersifat dehumanisasi agar kebatilan semu mampu kita basmi secara sadar sehingga tak ada lagi sekat antar individu dan antar kelompok. Sebagai warga negara, kitapun harus memiliki socially sensitive dalam rangka mewujudkan keadaban warga negara (civic virtue), belum lagi timbulnya masalah yang mulai mengakar di negeri ini, yakni merebaknya isu sara yang mengancam ketunggalikaan republik ini. Semoga kita senantiasa menyadari betul bahwa semangat persatuan yang dibarengi nilai religius yang mampu mengukuhkan bangsa kita menjadi negara yang diperhitungkan dan berdaulat di mata dunia.

(ar/fe)

One thought on “Belajar Di Atas Sajadah

  • October 25, 2017 at 4:13 pm
    Permalink

    Tulisan yg sangat inspiratifff…jadi sadar saya

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *