Mendaur Ulang Hoax dengan HOTS

Oleh: Ari Febrian

Mahasiswa Sekolah Pascasarjana Pendidikan Kewarganegaraan

Universitas Pendidikan Indonesia

Ringkasan:

  • Akan selalu muncul permasalahan yang akan menguji persatuan dan kesatuan bangsa. Salah satu permasalahan yang saat ini sedang menguji keutuhan kita sebagai bangsa Indonesia adalah merebak atau merajalelannya berita hoax.
  • Hoax atau pemberitaan yang kebenarannya masih dipertanyakan, sekarang menjadi suatu hal yang viral di tengah masyarakat. Pemberitaan hoax sering kali menyebar di media sosial baik itu facebook atau melalui aplikasi percakapan Whatsapp.
  • HOTS  adalah singkatan dari Higher Order Thinking Skills atau kemampuan berpikir tingkat tinggi. Didefinisikan lebih lanjut Higher Order Thinking Skills (HOTS) adalah kegiatan berpikir yang melibatkan level kognitif hirarki tinggi dari taksonomi berpikir Bloom.
  • Merebaknya pemberitaan bohong adalah suatu topik yang sebenarnya bisa menjadi objek kajian dalam menemukan suatu kebenaran. Sangat memungkinkan berita hoax  bisa menjadi bahan pembelajaran dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis seseorang.
  • Harapan untuk melawan hoax ada pada kaum-kaum intelektual muda. Melalui kemampuan berpikir tingkat tinggi yang dimilikinya, diharapkan mereka mampu menganalisis suatu informasi yang menjadi bahan perbincangan di tengah masyarakat. Tidak hanya cukup dianalisis, akan tetapi hasil analisis tersebut, disampaikan melalui mulut kemulut ataupun melalui broadcast melalui media sosial, baik itu facebook ataupun whasapp.

Indonesia adalah bangsa yang multikultural, terdiri dari berbagai macam suku, agama, ras, dan antar golongan. Keberagaman ini menjadi nilai tambah tersendiri bagi bangsa  Indonesia jika mampu menjaga persatuan dan kesatuan bangsa di era milenial sekarang. Betapa indahnya bangsa kita ditatap oleh bangsa asing, dengan keberagaman yang dimiliki oleh bangsa kita,  bangsa kita tetap teguh berdiri menjadi bangsa yang bersatu di dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.

Sebagai bangsa yang besar, dengan wilayah yang terbentang dari Sabang sampai Merauke serta SDM yang berlimpah, tentu tidak mudah bagi pemerintah dalam mengelolanya. Akan selalu muncul permasalahan yang akan menguji persatuan dan kesatuan bangsa. Salah satu permasalahan yang saat ini sedang menguji keutuhan kita sebagai bangsa Indonesia adalah merebak atau merajalelannya berita hoax.

Hoax atau pemberitaan yang kebenarannya masih dipertanyakan, sekarang menjadi suatu hal yang viral di tengah masyarakat. Pemberitaan hoax sering kali menyebar di media sosial baik itu facebook atau melalui aplikasi percakapan Whatsapp. Menyebarnya berita hoax seolah-seolah menggiring opini masyarakat pada suatu tujuan individu atau kelompok tertentu yang tentunya sangat mengganggu ketenteraman dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Baca Juga :  Golkar: Capres Lawan Jokowi Akan Muncul Pertengahan 2018

Kelompok Saracen atau yang terbaru Muslim Cyber Army (MCA), menjadi contoh dari adanya suatu kelompok yang terorganisir dalam menyebarkan pemberitaan yang mengandung provokasi. Beberapa hari lalu seperti yang dikutip dari laman Liputan6.com,  Penyidik Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri, telah menangkap tersangka terkait kasus penyebaran berita bohong alias hoax dan ujaran kebencian alias hate speech. Setelah diidentifikasi mereka semua tergabung dalam kelompok Muslim Cyber Army (MCA).

Fenomena ini tentunya sangat merisaukan masyarakat. Di era Revolusi Industri 4.0, dimana arus teknologi berkembang dengan begitu pesat, masyarakat membutuhkan ketepatan informasi yang kebenarannya dapat dipertanggung jawabkan. Apalagi semua arus informasi sekarang kebanyakan didapatkan melalui media sosial, keadaan yang memungkinkan setiap orang dapat menyebarkan informasi dengan begitu mudahnya. Bagus, kalau informasi yang disebarkan dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya, akan tetapi yang dikhawatirkan informasi yang disebarkan tidak dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya sehingga menimbulkan hoax.

Permasalahan ini jika kita kaji dari sudut pandang yang berbeda, sebenarnya bisa kita ambil sisi positifnya. Kenapa seperti itu? Merebaknya pemberitaan bohong adalah suatu topik yang sebenarnya bisa menjadi objek kajian dalam menemukan suatu kebenaran. Sangat memungkinkan berita hoax  bisa menjadi bahan pembelajaran dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis seseorang. Dalam hal ini masyarakat khususnya pelajar, mahasiswa ataupun akademisi sebagai kaum intelektual sudah seharusnya dapat menganalisis pemberitaan bohong tersebut. Artinya peran dari kaum intelektual menjadi sangat penting dalam transfer of knowledge kepada masyarakat disekitarnya.

Ketika semua ini berjalan dengan baik, sudah seharusnya berita bohong alias  hoax  bukan lagi menjadi suatu ancaman serius bagi ketenteraman kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Sinergitas pemerintah, kaum intelektual, serta masyarakat melalui transfer of knowledge diharapkan mampu menjadi suatu kesatuan yang kuat dan dapat bahu-membahu satu sama lainnya dalam memborder setiap pemberitaan hoax yang menyebar di tengah masyarakat.

Baca Juga :  Bitcoin Dalam Perspektif Islam. Bolehkah ?

Apalagi di era Revolusi industri 4.0 sekarang, transfer of knowledge bukan lagi menjadi suatu hal yang sulit di untuk dilakukan. Hal ini didasari karena kemajuan teknologi sudah mengarahkan kita menjadi seorang warga negara dunia. Dimana setiap individu di belahan dunia manapun sudah tersambung satu sama lainnya. Adalah Artificial Intelligence atau kecerdasan buatanlah yang  memudahkan manusia berinteraksi satu sama lainnya. Salah satu contohnya ketika kita berinteraksi di media sosial, secara tidak langsung kita telah menggunakan Artificial Intelligence.

Pentingnya HOTS

Ketika pertama kali membaca atau mendengar kata hots, mungkin beberapa orang akan bertanya apa itu hots? HOTS  adalah singkatan dari Higher Order Thinking Skills atau kemampuan berpikir tingkat tinggi. Didefinisikan lebih lanjut Higher Order Thinking Skills (HOTS) adalah kegiatan berpikir yang melibatkan level kognitif hirarki tinggi dari taksonomi berpikir Bloom. Secara hirarkikal taksonomi Bloom terdiri dari enam level, yaitu knowledge (Recall or locate information), comprehension (Understand learned facts), application (Apply what has been learned to new situations), analysis (“Take apart” information to examine different parts ), synthesis (Create or invent something; bring together more than one idea) dan evaluation (Consider evidence to support conclusions).

Kemudian Anderson, L., and Krathwohl, D. (eds.) (2001) dalam bukunya yang berjudul Assessing: A Revision of Bloom’s Taxonomy  yang dipublikasi oleh Publishing Co, New York, US merevisi level taxonomi ini menjadi remembering, understanding, applying, analysing, evaluating, creating. Dalam perkembangannya remembering, understanding, applying dikategorikan dalam recalling dan processing, sedangkan analysing dan evaluating dikategorikan dalam critical thinking dan yang terakhir creating dikategorikan dalam creative thinking.

Secara garis besar, kemampuan berpikir tingkat tinggi mengarahkan seseorang agar mampu menghafal, dapat berpikir kritis serta berpikir kreatif. Semua aspek itu merupakan modal dasar dalam melawan hoax. Karena dengan menghafal seseorang dapat mengingat konsep yang sebenarnya mengenai sebuah informasi, dengan berpikir kritis seseorang dapat mengkaji sebuah informasi ditinjau dari berbagai sudut pandang dan berpikir kreatif seseorang dapat memberikan suatu solusi dalam memecahkan suatu masalah serta dapat menarik kesimpulan yang sebenarnya dari setiap informasi yang didapatkan, apakah informasi tersebut benar atau bohong.

Baca Juga :  Reorientasi Fungsi Markas Brimob

Semua aspek Kemampuan berpikir tingkat tinggi biasanya diterapkan dalam sebuah pembelajaran, baik di sekolah ataupun ditingkatan universitas. Di lembaga formal pendidikan, kemampuan berpikir tingkat tinggi sudah seharusnya dibiasakan untuk di terapkan. Guru ataupun Dosen haruslah memberikan suatu stimulus yang dapat merangsang kemampuan berpikir tingkat tinggi dari siswa ataupun mahasiswa. Sehingga ketika seorang siswa ataupun mahasiswa  turun ke masyarakat, mereka dapat menjadi agen-agen dalam melawan hoax.

Seperti yang dibahas di awal, harapan untuk melawan hoax ada pada kaum-kaum intelektual muda. Melalui kemampuan berpikir tingkat tinggi yang dimilikinya, diharapkan mereka mampu menganalisis suatu informasi yang menjadi bahan perbincangan di tengah masyarakat. Tidak hanya cukup dianalisis, akan tetapi hasil analisis tersebut, disampaikan melalui mulut kemulut ataupun melalui broadcast melalui media sosial, baik itu facebook ataupun whasapp. Selain kaum muda, pemerintah juga tidak bisa diam melihat fenomena hoax yang terjadi. Harus ada upaya sistematis yang mampu menjangkau setiap informasi yang berkembang di masyarakat sampai kepada akar-akarnya. Sehingga pemerintah dapat memonitor setiap informasi hoax yang berkembang di tengah masyarakat.

Akhir-akhir ini adanya upaya dari beberapa kalangan yang mengusulkan pendaftaran media sosial menggunakan NIK dan Kartu Keluarga, merupakan suatu terobosan yang nyata untuk memberantas menyebarnya hoax. Upaya ini tentu akan menjadi sia-sia tanpa adanya kerja sama yang baik antara pemerintah, kaum intelektual, dan masyarakat. Ibarat sebuah musik, enak atau tidaknya suatu musik tergantung daripada harmoni yang terjalin dalam nada-nada musik tersebut. Begitupun dengan upaya pemberantasan hoax, perlu terjalinnya harmoni yang indah antara pemerintah, kaum intelektual, dan masyarakat. Pada akhirnya harmoni ini akan menciptakan suatu kehidupan atau tatanan masyarakat yang cerdas dengan kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS).

(ar/fe)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *