Menyoal Akar Permasalahan Bangsa Indonesia

Oleh: Ari Febrian

Mahasiswa Sekolah Pascasarjana Pendidikan Kewarganegaraan

Universitas Pendidikan Indonesia

Ringkasan:

  • Manusia Indonesia tak lain adalah orang yang menghirup setiap helaian udara yang mengalir di setiap hembusan nafasnya.
  • salah satu fungsi hukum menurut Lawrence M. Friedmann adalah sebagai rekayasa sosial. Dalam artian ini, putusan yang diambil oleh seorang hakim diharapkan dapat mengubah perilaku seseorang.
  • setiap manusia Indonesia sejak kecil sudah dibekali dengan ilmu agama yang berbicara mengenai baik atau buruknya sesuatu, dosa atau tidaknya setiap perilaku yang dilakukan manusia. Kemudian manusia juga dibekali dengan ilmu pengetahuan baik berupa ilmu alat ataupun ilmu terapan. Semua itu merupakan modal yang dimiliki manusia untuk selamat hidup di dunia maupun di akhirat.
  • Pendidikan belum mampu membentuk akhlak mulia dari manusia Indonesia, walaupun tujuan pendidikan nasional kita sudah mengarah kesana.

Mari kita berpikir secara filosofik mengenai permasalahan yang terjadi di bangsa ini. Setiap permasalahan yang dihadapi oleh bangsa ini, tidak lain merupakan sebuah cobaan dari yang maha kuasa terhadap alam ini. Manusia hanya bisa berusaha dalam melewati cobaan yang dihadapinya. Termasuk manusia Indonesia. Manusia Indonesia tak lain adalah orang yang menghirup setiap helaian udara yang mengalir di setiap hembusan nafasnya. Keadaan ini, tentunya mengharuskan setiap manusia Indonesia untuk berjuang menyelesaikan permasalahan bangsa ini.  Hal mendasar yang bisa dilakukan oleh setiap manusia Indonesia adalah menjadi seorang warga negara yang cerdas.

Tidak mudah memang menjadikan semua warga negara menjadi seorang yang cerdas. Lalu ketika ketidakmudahan ini menghampiri apakah semuanya akan diam atau hanya bisa jalan di tempat? Tentunya merupakan suatu yang buruk bagi bangsa Indonesia, ketika semua lapisan yang ada di bangsa ini, jalan di tempat dalam menyelesaikan permasalahan bangsa ini. Baik, jangan kita berdebat mempersoalkan itu. Mari kita berpikir kembali sebenarnya apa yang menjadi akar dari permasalahan bangsa ini?

Pernahkah dari setiap manusia Indonesia berpikir apa yang sebenarnya menjadi akar permasalahan bangsa ini? Saya, berharap setiap manusia Indonesia berpikir tentang itu. Pergejolakan pemikiran seringkali datang menghinggap ketika datang pertanyaan itu. Respons pertama untuk menjawab pertanyaan itu ialah ada pada sistem hukum di negara kita.  Kita mengetahui bahwa bangsa kita adalah negara hukum. Artinya setiap manusia Indonesia harus taat pada hukum yang berlaku. Ketika apa yang diharapkan itu, terciptanya manusia yang taat akan hukum, kenyataan tidak selalu seperti itu.

Baca Juga :  Kembali ke Khitah Sistem Pendidikan Pancasila dalam Menyambut Hari Pendidikan Nasional

Kenyataan itu muncul sebuah persepsi dari pemikiran saya, apakah hukum sebenarnya yang menjadi akar permasalahan bangsa ini? Ketika banyaknya pejabat yang ditangkap KPK karena kasus korupsi, serta penegakan hukum yang tajam ke bawah tumpul ke atas, menumbuhkan suatu keyakinan gagalnya sistem hukum negara kita dalam menciptakan suatu keadilan. Ketika sudah sulitnya mencapai keadilan, maka yang terjadi adalah ketidakseimbangan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Seperti yang diketahui salah satu fungsi hukum menurut Lawrence M. Friedmann adalah sebagai rekayasa sosial. Dalam artian ini, putusan yang diambil oleh seorang hakim diharapkan dapat mengubah perilaku seseorang. Asumsi tersebut memperkuat persepsi awal saya bahwa hukumlah yang dapat menyelesaikan permasalahan yang dihadapi bangsa ini. Ketika penegakan hukum sudah menyentuh sisi keadilan maka selesailah permasalahan bangsa ini. Hal ini diyakini bahwa hukum dapat mengubah perilaku seseorang.

Pemikiran saya berkata bahwa setiap manusia Indonesia sejak kecil sudah dibekali dengan ilmu agama yang berbicara mengenai baik atau buruknya sesuatu, dosa atau tidaknya setiap perilaku yang dilakukan manusia. Kemudian manusia juga dibekali dengan ilmu pengetahuan baik berupa ilmu alat ataupun ilmu terapan. Semua itu merupakan modal yang dimiliki manusia untuk selamat hidup di dunia maupun di akhirat.

Modal-modal itu terkadang memang tidak semulus apa yang dipikirkan oleh seorang manusia. Setiap manusia tentu ingin perjalanan hidupnya di dunia ini berjalan dengan mulus, tanpa adanya hasutan ataupun gangguan yang menghalangi jalan mereka menuju kebahagiaan hidup di akhirat.  Tapi kenyataan berbicara lain, setiap manusia pasti pernah mengalami hasutan atau bisikan-bisikan yang menggoda mereka untuk melakukan suatu hal yang mencelakakan dirinya.

Contohnya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara adalah perilaku korupsi. Di negara kita perilaku korupsi seolah merupakan suatu hal yang senantiasa menjadi penyakit bagi negara kita untuk menjadi sebuah negara yang maju. Keadaan tersebut terjadi karena tidak mampunya mereka atau orang yang melakukan korupsi tersebut, untuk tetap yakin pada ilmu agama yang telah dia pelajari sejak kecil. Pada akhirnya bisikan-bisikan ‘setan’ masuk ke dalam pikirannya untuk melakukan sesuatu yang mencelakakan dirinya bahkan masyarakat banyak.  Ketika agama sudah dihiraukan oleh mereka, ilmu pengetahuan pun juga tidak mampu mencegah mereka melakukan itu. Ilmu pengetahuan yang mereka miliki hanya digunakan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang keuntungannya hanya untuk dirinya sendiri, bukan lagi untuk kemaslahatan umat manusia.

Baca Juga :  Politisi Khusyuk dan Politisi Busuk dalam Pilkada

Kondisi-kondisi seperti itulah yang artinya memerlukan suatu penegakan hukum yang benar-benar menyentuh pada nilai-nilai keadilan. Fungsi hukum sebagai rekayasa sosial diharapkan mampu berjalan dengan baik ketika kondisi seperti itu sudah terjadi. Harapannya bahwa setiap putusan yang dikeluarkan oleh seorang hakim harus berdasaran pada pemikiran mendalam. Pemikiran mendalam disini artinya seorang hakim bukan hanya mengacu pada hukum positif yang berlaku akan tetapi seorang hakim juga harus berpikir secara filosofik, dimana hakim juga mempertimbangkan aspek sosiologis, antropologis, ekonomi ataupun hal-hal lainya yang berhubungan dengan putusan yang akan dikeluarkan. Karena bukan main hakim bisa diibaratkan sebagai “wakil Tuhan” dimana satu kakinya di surga dan satunya lagi ada di neraka. Oleh karena setiap putusan hakim diharapkan mampu memberikan rasa keadilan bagi setiap orang. Slogan dari Artistoteles mengenai keadilan ini cocok untuk menggambarkan bagaimana seharusnya hakim bertindak, “yang penting diberikan yang sama, yang tidak penting diberikan yang tidak sama”.

Konstruksi yang dibangun dari pemikiran awal saya, mengenai hukumlah yang menjadi akar permasalahan bangsa ini adalah bagaimana output dari penegakan hukum yang baik, dapat memberikan suatu penyadaran bagi setiap manusia Indonesia yang sudah mencelakakan dirinya dan orang lain, untuk kembali istiqomah dalam mengamalkan ilmu agama yang telah dipelajarinya serta dapat menggunakan ilmu pengetahuannya sebagaimana mestinya.

Paradigma Baru

Di awal konstruksi pemikiran yang dibangun dalam menyoal permasalahan bangsa Indonesia adalah hukum.  Kemudian seiring bertambahnya pengetahuan saya, pemikiran ini kembali bergejolak tentang apa yang menjadi akar permasalahan bangsa ini. Pergejolakan ini didasari bahwa, nyatanya penegakan hukum tidak kunjung memberikan rasa keadilan ataupun pengembalian pada jati diri seseorang untuk kembali menjadi manusia yang mengamalkan ilmu agamanya dan mengamalkan ilmu pengetahuannya.

Baca Juga :  Refleksi Sumpah Pemuda : Melawan Neo-Kolonialisme-Imperialisme

Lalu kemudian mencoba menemukan sebuah gagasan baru menyoal akar permasalahan bangsa ini. Asumsi yang muncul kemudian adalah apakah pendidikan yang menjadi akar permasalahan bangsa ini? Ketika muncul pemikiran mengenai pendidikan, saya mencoba menggalinya dari pembukaan UUD 1945. Salah satu tujuan nasional bangsa Indonesia yang terdapat dalam UUD 1945 adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Dari hal ini dapat dipahami ketika hendak beranjak kepada bagaimana  memahami ataupun mengamalkan nilai-nilai Pancasila, hal dasar yang harus dimiliki oleh setiap manusia Indonesia adalah cerdas.

Nilai-nilai yang ada dalam Pancasila tersebut bertujuan untuk membentuk manusia Indonesia yang Pancasilais. Artinya ketika manusia Indonesia mampu menjadi orang yang Pancasilais, maka dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, Pancasila akan senantiasa menjadi pandangan hidupnya. Ketika Pancasila sudah menjadi pandangan hidup setiap manusia Indonesia, hal –hal yang buruk yang dapat merusak atau mencelakakan dirinya atau orang banyak akan dapat dihindarinya. Telah diketahui bahwa sejak dulu Pancasila sudah dibumikan sebagai pandangan hidup bangsa. Namun tetap saja masih ada manusia Indonesia yang bertindak diluar kaidah nilai-nilai Pancasila. Artinya dalam hal ini yang saya pahami bagaimana manusia Indonesia belum cerdas. Pengertian belum cerdas ini, tercakup dalam aspek pendidikan. Dimana pendidikan belum mampu mencerdaskan kehidupan manusia Indonesia seutuhnya.

Indikator belum mampunya Pendidikan mencerdaskan kehidupan bangsa sudah dijelaskan pada penjelasan sebelumnya. Pendidikan belum mampu membentuk akhlak mulia dari manusia Indonesia, walaupun tujuan pendidikan nasional kita sudah mengarah kesana. Asumsi ini meyakini bahwa betapa pentingnya Pendidikan di negara ini. Pendidikan adalah tonggak untuk tercapai manusia Indonesia yang Pancasilais seutuhnya. Paradigma ini tentu tidaklah statis, ini hanyalah asumsi menyoal permasalahan bangsa. Tidak menutup kemungkinan dilain waktu akan ditemukan akar-akar lainnya menyoal permasalahan bangsa ini.

(rdk)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *