Menjaga Pemuda Indonesia dari Narkoba dan Miras Oplosan

Oleh: Ari Febrian / Redaksi Matangasa

Mahasiswa Sekolah Pascasarjana PKn UPI

Ringkasan:

  1. Menurut BNN sekitar 27,32 persen pengguna narkoba di Indonesia berasal dari Pemuda, kalangan pelajar dan mahasiswa.
  2. Banyak orang hebat berkata jika ingin menghancurkan suatu bangsa atau negara, hancurkanlah generasi mudanya.
  3. Ketegasan dalam menghukum para pengedar narkoba di negara ini adalah harga mati bagi para penegak hukum.
  4. Total korban yang menjadi korban miras oplosan berjumlah 189 orang dengan 38 diantaranya meninggal dunia.
  5. Narkoba akan membunuh secara perlahan-lahan, sedangkan miras bisa langsung membunuh.

Siapa yang tidak kenal Indonesia? Seluruh bangsa di dunia ini pasti akan merasa khawatir dengan kebesaran nama Indonesia. Bukan tanpa alasan, Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki sumber daya alam berlimpah. Apa yang tidak ada di negara lain, akan di temui di Indonesia. Bukan hanya itu, Indonesia juga memiliki sumber daya manusia yang berlimpah, dengan jumlah penduduk salah satu terbesar di dunia. Semua potensi ini adalah milik Indonesia, negara-negara lain tentunya akan butuh Indonesia. Tentu dengan potensi itu, tidak sedikit juga yang ingin kembali menguasai Indonesia. Bak permata di tengah lautan, berkilau,  yang hendak direbutkan oleh banyak perompak.

Kondisi ini menjadi peluang tentunya, ketika negara mampu memaksimalkan setiap potensi diri yang dimiliki oleh manusia Indonesia, khususnya pemuda Indonesia.  Kenapa pemuda? Kita tahu sejak dulu sebelum bangsa Indonesia merdeka, pemuda adalah salah satu penggerak yang membangkitkan semangat bangsa Indonesia dalam merebut kemerdekaan. Pemudalah yang menginisiasi agar Indonesia harus sesegera mungkin untuk merdeka. Sejarah tersebut menunjukkan bagaimana besarnya peran pemuda ketika waktu. Tentu bukan menjadi suatu kemustahilan ketika di era sekarang harapan untuk membangun Indonesia ada di pundak para pemuda Indonesia.

Dari sekian banyak penduduk Indonesia, jumlah pemuda dari tahun-ke tahun terus mengalami peningkatan. Menurut sumber data dari BPS, jumlah pemuda di Indonesia pada tahun 2016 berjumlah sekitar 62.061.400 jiwa. Hal ini mengalami penaikan, mengingat pada tahun 2014 hanya sekitar 61,8 Jiwa. Sedangkan untuk tahun 2017-2018 belum ada data pasti mengenai jumlah pemuda di Indonesia.

Baca Juga :  Novel di Persimpang Jalan, Butuh Keadilan
Pemuda Indonesia
Pemuda Indonesia

Adanya peningkatan jumlah usia produktif di Indonesia ini, memberikan suatu signal postif bagi bangsa Indonesia dalam menyambut bonus demografi. Seperti yang digadang-gadang sebelumnya, Indonesia akan mencapai masa emasnya pada tahun 2045. Dimana ketika menginjak tahun itu, usia produktif akan lebih mendominasi daripada usia tua.  Kondisi ini tentulah menjadi aset berharga bagi bangsa Indonesia, apalagi seluruh unit lapisan bangsa Indonesia bahu-membahu menjaga pemuda Indonesia dari penyakit-penyakit yang dapat mengganggu masa depannya.    Bukan tidak mungkin apa yang dikatakan oleh Soekarno melalui pidatonya yang berbunyi “ Beri aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya, Beri aku 10  pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”, suatu saat nanti akan menjadi sebuah kenyataan.

Banyak orang hebat berkata jika ingin menghancurkan suatu bangsa atau negara, hancurkanlah generasi mudanya. Perkataan tersebut bolehlah menjadi suatu ancaman saat ini bagi setiap negara di belahan dunia manapun, tak terkecuali Indonesia. Bukan tanpa alasan, beberapa tahun belakangan ini meningkatnya jumlah narkoba yang masuk ke Indonesia menjadi bukti bagaimana narkoba menjadi salah satu bahaya yang sekarang dihadapi bangsa Indonesia. Yang lebih bahayanya lagi, menurut BNN sekitar 27,32 persen pengguna narkoba di Indonesia berasal dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Data ini menunjukkan bagaimana sekarang ancaman untuk menghancurkan bangsa Indonesia makin mendekati kenyataan. Pemuda yang harusnya diharapkan sebagai pemegang estafeta menuju Indonesia emas 2045, sedikit demi sedikit mulai diracuni dengan obatan-obatan yang dapat merusak masa depannya.

Banyaknya pemuda yang terjebak dalam pengaruh obat-obat terlarang ini, haruslah sesegara mungkin dihentikan. Masuknya narkoba ke Indonesia, haruslah dihentikan dari segala penjuru Indonesia. Jangan berikan ruang-ruang kecil apalagi besar dalam peredaran narkoba di Indonesia. Sikap tegas pemerintah haruslah diperlihatkan dalam kondisi ini. Ketegasan dalam menghukum para pengedar narkoba di  negara ini adalah harga mati bagi para penegak hukum. Jika tidak, Indonesia emas 2045 hanyalah menjadi buaian cerita dongeng suatu saat nanti.

Baca Juga :  Nasionalisme Sebagai Identitas Bangsa

 

Bahaya Miras bisa Melebihi Narkoba

Minuman keras atau disingkat dengan miras adalah suatu minuman beralkohol yang dapat memberikan efek pusing, atau dapat menimbulkan ketidaksadaran pada seorang akan perilaku yang dia lakukan.  Menurut Sisworo penyalahgunaan alkohol telah menjadi masalah pada hampir setiap egara di seluruh dunia. Tingkat konsumsi alkohol di setiap Negara berbeda-beda tergantung pada kondisi sosio kultural, pola religius, kekuatan ekonomi, serta bentuk kebijakan dan regulasi alkohol di tiap negara.

Pada saat ini terdapat kecenderungan penurunan angka pecandu alkohol di negara-negara maju namun angka pecandu alkohol ini justru 8 meningkat pada negara-negara berkembang. World Health Organization (WHO) memperkirakan saat ini jumlah pecandu alkohol di seluruh dunia mencapai 64 juta orang, dengan angka ketergantungan yang beragam di setiap negara.

Di Amerika misalnya, terdapat lebih dari 15 juta orang yang mengalami ketergantungan alkohol dengan 25% diantaranya adalah pecandu dari kalangan wanita. Kelompok usia tertinggi pengguna alkohol di negara Amerika adalah 20 – 30 tahun, sementara kelompok usia terendah pengguna alkohol adalah di atas 60 tahun, dan rata-rata mereka mulai mengkonsumsi alkohol semenjak usia 15 tahun. Sementara di Canada tercatat sekitar 1 juta orang mengalami kecanduan alkohol, jumlah pecandu pria dua kali lipat dari wanita dengan kelompok umur pengguna alkohol tertinggi adalah 20 – 25 tahun. Angka mengejutkan didapatkan di Rusia di mana terdapat data yang menunjukkan bahwa 40% pria dan 17% wanita di negara ini adalah alkoholik (Encarta Encyclopedia, 2006).

Di Indonesia sendiri,  minuman beralkohol atau disebut miras akhir-akhir ini hangat diperbincangkan. Miras yang sekarang sedang viral di berbagai media masa ataupun cetak bukanlah hanya miras biasa-biasa saja, akan tetapi miras yang sudah di oplos atau miras yang dicampur dengan cairan lainnya yang mengakibatkan semakin bahayanya ketika seseorang meneguk miras tersebut.  Bahayanya miras oplosan ini terbukti ketika banyaknya korban yang berjatuhan akibat dari meneguk miras oplosan ini. Di lansir dari laman viva.co.id , total korban yang menjadi korban miras oplosan berjumlah 189 orang dengan 38 diantaranya meninggal dunia.

Baca Juga :  Mengenal Sosok Ibu Indonesia

Fenomena ini tentulah menjadi suatu keadaan yang buruk bagi bangsa Indonesia. Ketika narkoba sudah meracuni pemuda Indonesia, sekarang muncul lagi miras oplosan yang meracuni seluruh golongan umur rakyat Indonesia. Bahkan boleh dikatakan miras oplosan bisa lebih berbahaya dari narkoba. Kenapa demikian? Coba kita lihat orang-orang pengguna narkoba. Seseorang yang menggunakan narkoba efek yang dirasakannya akan berkepanjangan. Seseorang yang menggunakan narkoba akan merasa ketergantungan terhadap obat-obatan. Sehingga yang terjadi narkoba dapat membunuh orang secara perlahan-lahan. Bandingkan dengan miras oplosan, ketika seseorang meminum miras oplosan, dampak yang terjadi orang tersebut bisa saja langsung meninggal dunia akibat pengaruh dari miras oplosan yang dia minum.  Maka dengan itulah miras oplosan bisa lebih berbahaya dari pada narkoba.

Keadaan-keadaan yang membahayakan bangsa Indonesia ini, haruslah mendapat perhatian serius dari pemerintah dan masyarakat. Pemerintah harus melakukan tindakan tegas dengan memperketat aturan akan pelarangan narkoba dan miras. Sedangkan masyarakat harus menjadi bagian yang memperhatikan dan peduli terhadap lingkungan sekitarnya, ketika ada tetangganya yang menggunakan narkoba atau minum miras.  Saat ini bukan lagi mencari siapa yang salah, akan tetapi yang harus dilakukan adalah bersatu di dalam keharmonian kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *