Jangan Pilih Calon Presiden Berpendidikan Rendah

Oleh : Asep Ikbal
Mahasiswa Departemen Pendidikan Kewarganegaraan Sekolah Pascasarjana
Universitas Pendidikan Indonesia

Poin Ringkasan:

  • Pendidikan harus mendapatkan tempat yang terbaik dalam pembangunan peradaban bangsa mengingat bangsa Indonesia terlahir dari bangsa yang dijajah dan berjuang melawan penjajahan itu, sehingga pendidikan bukan hal yang gratisan bagi bangsa Indonesia.
  • Jika pendidikan menjadi suatu konsepsi yang penting bagi kehidupan bangsa, maka di masa depan akan timbul keinginan masyarakat berpendidikan tinggi agar dipimpin oleh pemimpin yang berpendidikan tinggi pula
  • Investasi dalam bidang pendidikan sejak dini menjadi investasi politik yang sangat baik dan akan dipetik hasilnya pada 20-30 tahun mendatang.
  • Para politisi yang tidak berpendidikan tinggi padahal memiliki kemampuan untuk menempuh pendidikan tinggi, hanya menjadikan pendidikan sebagai tema kampanye dan komoditas politik dalam merebut hati rakyat.

Tantangan dan Makna Pendidikan abad 21

Salah satu aspek yang membedakan manusia dengan binatang adalah karena manusia dapat didik sedangkan binatang tidak, sehingga manusia memerlukan pendidikan dalam kehidupannya yang lebih dari sekedar pengajaran atau pelatihan. Dalam perkembangannya timbul berbagai konsepsi dan pandangan bahwa manusia memerlukan pendidikan seumur hidupnya (long life education). Ungkapan tersebut bukan tanpa alasan. Dalam beberapa literatur agama akan banyak ditemukan berbagai perintah kepada para pemeluknya untuk belajar seumur hidupnya.

Bagi bangsa Indonesia, pendidikan tidak didapatkan secara gratisan. Imperialisme selama kurang lebih 350 tahun telah membelenggu kebebasan bangsa Indonesia dalam mengembangkan intelektual dan pengembangan sikap sosialnya, sehingga R.A Kartini dan para tokoh inspiratif bangsa yang lain dirasa sangat berjasa bagi perkembangan pendidikan di Indonesia, karena penjajah yang melakukan imperialisme dalam melakukan penindasan politik dan menimbulkan kesengsaraan ekonomi penduduk Hindia Belanda yang kemudian menjadi Indonesia itu tidak terlepas dari upaya-upaya untuk menjauhkan bangsa Indonesia dari pendidikan.

Dalam membeli hati rakyat bangsa Indonesia, maka Belanda memberangkatkan para pemuda bangsa Indonesia belajar di luar negeri seperti Hatta dan Sjahrir yang mengenyam pendidikan di Belanda. Namun kemudian pendidikan yang diberikan kepada para kaum bumiputra itu menjadi boomerang bagi kaum penjajah sendiri. Sejatinya para kaum intelek memiliki sikap jujur dalam dirinya sehingga akan melihat penjajahan dan penindasan sebagai suatu tindakan yang tidak beradab dan berperikemanusiaan serta harus dilawan, sehingga jelaslah bahwa pendidikan yang menghasilkan intelektual yang berkualitas adalah senjata yang paling tajam untuk membunuh imperialisme.

Baca Juga :  Media Sosial sebagai Alat Komunikasi Politik

Bangsa Indonesia haruslah berbangga hati, ditengah-tengah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dan pada saat bersamaan telah masuknya zaman Renaissance (pencerahan), bangsa Indonesia berada dalam kemerdekaan termasuk kemerdekaan untuk mengakses pendidikan. Namun ditengah-tengah semangat intelektual di abad ke-21 itu, dunia memasuki era materialisme. Liberalisme dan komunisme  mengembangkan pengaruhnya ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Disanalah mulai terjadinya benturan-benturan ideologi dan nilai-nilai serta prinsip-prinsip yang tidak cocok, sehingga Indonesia mengakui terjadinya dekadensi moral di masyarakat yang salah satunya disebabkan oleh masuknya nilai-nilai ideologi lain yang berbenturan atau tidak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

Secara historis dan sosiologis, maka bangsa Indonesia harus menjadi bangsa yang benar-benar memanfaatkan kemudahan akses pendidikan tersebut. Jika semua orang menyepakati dan tidak membantah mengenai urgensi pendidikan, maka menjadi sebuah konsekuensi logis jika seluruh warga negara harus berusaha sekuat tenaga dalam menggapai pendidikan tertinggi yang dapat dicapai. Proyeksi-proyeksi yang diramalkan pada masa yang akan dating tidak terlepas dari masyarakat sebagai komunitas intelektual (intellectual community). Secara bersamaan juga maka masyarakat yang kelak mayoritas berpendidikan tinggi akan juga memerlukan pemimpin yang berpendidikan tinggi.

 

Investastasi Pendidikan dan Investasi Politik

Politik yang baik selalu membuat perencanaan yang baik dan terukur, berbeda dengan politisi amatiran yang hanya mengembangkan segala hal dengan hanya serba mendadak. Politisi yang baik harus dapat membava==ca kebutuhan zaman yang akan dating termasuk jika bercita-cita menjadi presiden kelak. Pendidikan selalu menjadi tema yang menarik dalam dunia politik kebijakan sehingga tidak mengherankan jika anggaran pendidikan yang diambil dari APBN adalah sebesar 20% sebagai diamanatkan oleh konstitusi. Hal tersebut menandakan bahwa pendidikan memiliki peranan yang sentral dalam proses pembangunan peradaban bangsa. Selain itu, pendidikan juga selalu menjadi tema dan janji para calon baik bupati/walikota, gubernur hungga presiden dan wakil presiden.

Baca Juga :  Menyoal Status tersangka Kandidat Pilkada

Mencermati dinamika pendidikan yang semakin berkembang, maka tidak menjadi masalah jika yang menjadi presiden republic Indonesia (yang berasal dari sipil) berpendidikan lulusan SMA atau lulusan S-1, tetapi hal itu dapat menjadi persoalan manakala masyarakat sudah memiliki paradigm pendidikan yang sangat baik. Menjadi masalah ketika presiden hanya lulusan SMA atau S-1 sedangkan rata-rata masyarakat yang dipilih adalah lulusan S-2 dan S-2. Sehingga sjargon-jargon kolektifitas “wong cilik” “rakyat jelata” dan sebagainya tidak akan laku lagi di tengah-tengah masyarakat yang bernuansa intelektual.

Konsepsi pendidikan mengalami perkembangan dari masa ke masa. Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya sendiri dan masyarakat.

Pendidikan dalam arti luas merupakan usaha manusia untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya, yang berlangsung sepanjang hayat. Menurut Henderson, pendidikan merupakan suatu proses pertumbuhan dan perkembangan, sebagai hasil interaksi individu dengan lingkungan sosial dan lingkungan fisik, berlangsung sepanjang hayat sejak manusia lahir. Warisan sosial merupakan bagian dari lingkungan masyarakat, merupakan alat bagi manusia untuk pengembangan manusia yang terbaik dan inteligen, untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya.

Dari pengertian pendidikan di atas (dalam arti luas) ada beberapa prinsip dasar tentang pendidikan yang akan dilaksanakan:

Pertama, bahwa pendidikan berlangsung seumur hidup. Usaha pendidikan sudah dimulai sejak manusia lahir dari kandungan ibunya, sampai tutup usia, sepanjang ia mampu untuk menerima pengaruh dan dapat mengembangkan dirinya. Suatu konsekuensi dari konsep pendidikan sepanjang hayat adalah bahwa pendidikan tidak identik dengan persekolahan. Pendidikan akan berlangsung dalam lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Kedua, bahwa tanggung jawab pendidikan merupakan tanggung jawab bersama semua manusia: tanggung jawab orang tua, tanggung jawab masyarakat, dan tanggung jawab pemerintah. Ketiga, bagi manusia pendidikan merupakan suatu keharusan, karena dengan pendidikan manusia akan memiliki kemampuan dan kepribadian yang berkembang, yang di sebut manusia seluruhnya.

Pendidikan biasanya berawal saat seorang bayi itu dilahirkan dan berlangsung seumur hidup. Pendidikan bisa saja berawal dari sebelum bayi lahir seperti yang dilakukan oleh banyak orang dengan memainkan musik dan membaca kepada bayi dalam kandungan dengan harapan ia bisa mengajar bayi mereka sebelum kelahiran. Bagi sebagian orang, pengalaman kehidupan sehari-hari lebih berarti daripada pendidikan formal. Seperti kata Mark Twain, “Saya tidak pernah membiarkan sekolah mengganggu pendidikan saya.” Anggota keluarga mempunyai peran pengajaran yang amat mendalam, sering kali lebih mendalam dari yang disadari mereka, walaupun pengajaran anggota keluarga berjalan secara tidak resmi.

Baca Juga :  Kelas Jadi Horor Tanpa Sang Guru Honor

Dengan demikian, orang-orang yang memiliki niatan untuk maju sebagai pemimpin di tingkatan manapun di republic ini, harus dari sekarang mulai menanam investasi dalam bidamg pendidikan, sehingga para calon bupati/walikota, gubernur hingga presiden serta jabatan-jabatan lainnya harus memiliki track record pendidikan yang baik. Lambat laun akan mendasarkan preperensi memilih seseorang salah satunya adalah pendidikan seseorang. Jika para tokoh muda dan calon generasi bangsa tidak mau mengikuti jalur-jalur pendidikan di masa sekarang, maka dapat dikatakan bahwa dia telah gagal mempersiapkan diri sebagai pemimpin di masa yang akan dating namun jika seseorang telah dengan senang hati mengikuti pendidikan baik secara formal, nonformal maupun nonformal, maka dia telah mempersiapkan diri sebagai pemimpin masa depan.

Pilpres 2019 harus dijadikan sebagai role model pengembangan demokrasi yang berbasis intelektual, calon-calon yang tampil haruslah mereka yang berpendidikan, karena jika pendidikan tidak dijadikan sebagai preperensi dan memiliki nilai urgensi yang tinggi sama dengan merendahkan pendidikan dan membuat anak bangsa menjadi malas untuk mengikuti setiap jenjang pendidikan karena akan timbul banyak asumsi yang salah satunya bahwa untuk menjadi presiden di republic ini, tidaklah memerlukan pendidikan atau sekolah tinggi-tinggi. Jadi masyarakat harus mulai menjadikan pendidikan sebagai pertimbangan memilih seseorang sebagai pemimpin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *