Kembali ke Khitah Sistem Pendidikan Pancasila dalam Menyambut Hari Pendidikan Nasional

Oleh : Asep Ikbal, S.Pd.

Guru PPKN SMP Negeri 13 Bsandung

 

Ringkasan Opini :

  • Masalah Pendidikan di Indonesia yang tidak kunjung selesai salah satunya diakibatkan oleh filsafat sistem Pendidikan kita yang masih lemah. Pancasila sebagai falsafah bangsa Indonesia tidak sepenuhnya digunakan sistem berpikir dalam mengkontruksi sistem Pendidikan, sehingga orientasinya menjadi tidak jelas karena semakin menyimpang dari nilai-nilai Pancasila.
  • Bangsa Indonesia memiliki filosifis Pendidikan yang lebih luhur daripada konsepsi Pendidikan menurut Paulo Freire yakni Sistem Pendidikan yang berdasarkan Pancasila. Namun sangat disayangkan, para pemangku kebijakan lebih menyenangi konsep-konsep dan gagasan-gagasan dari luar negeri yang sebenarnya lebih banyak tidak cocok diterapkan di Indonesia.

 

Problematika Pendidikan rasa-rasanya terus silih berganti, mulai dari Pendidikan dasar dan menengah yang diwarnai bongkar pasang kurikulum, masalah beban kerja guru hingga masalah Pendidikan di perguruan tinggi yang semakin mengkhawatirkan dengan imperialisasi Pendidikan melalui berbagai standar internasional yang sebenarnya belum tentu kita perlukan. Lantas di hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2018 ini, sudah sejauh mana Pendidikan kita? Sudah sejauh mana kita melakukan pemabngunan Pendidikan yang berdasarkan ideologi Negara Pancasila? Apakah kita pernah mendengar istilah Sistem Pendidikan Pancasila? Mengapa masalah pendidikan terus bermunculan dari waktu ke waktu dan mengganggu progresifitas kita dalam mencapai salah satu tujuan nasional yakni Pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia?

 

Pancasila sebagai Dasar Pendidikan Indonesia

Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa merupakan kristalisasi atas nilai-nilai adat istiadat, nilai-nilai budaya dan nilai-nilai religius bangsa Indonesia tempo dulu (nenek moyang kita), artinya tidak mungkin nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila merupakan nilai yang bersifat instrumental, namun nilai-nilai dalam Pancasila sangatlah bersifat ideal dan lugur, sehingga tertuang dalam sila-sila Pancasila. Artinya para the founding fathers menginginkan pola pikir, sikap dan perilaku bangsa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari adalah mengikuti nenek moyang yang dianggap telah memiliki keadaban yang tinggi dalam sistem nilai dan adat istiadat yang terpelihara.

Indonesia berdiri tegak diatas dasar yang kuat yakni Pancasila. Pancasila bukanlah milik satu golongan, bukan pula milik satu suku atau milik satu wilayah, namun Pancasila adalah milik semua, menaungi semua dan harus menjadi dasar bertindak dan berperilaku sesuai dengan Pancasila itu. lantas bagaimana berperilaku sebagai Pancasilais dalam kehidupan yang sederhana? Nilai-nilai Pancasila itulah yang harus diejawantahkan ke dalam kehidupan social masyarakat kita. Sila pertama menandakan bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa yang religious, mengakui adanya Tuhan, memiliki agama dan percaya dengan hal-hal yang bersifat transcendental. Orang-orag islam harus melaksanakan ajaran islam secara totalitas, orang Katolik harus mengamalkan ajaran secara baik dan demikian pula dengan agama Kristen, Hindu, Budha dan Kong Hu Chu. Artinya sila pertama hingga sila ke lima Pancasila harus dijadikan dasar melakukan kontruksi ide penyelenggaraan Pendidikan kita.

Baca Juga :  Kembali ke Khitah Sistem Pendidikan Pancasila dalam Menyambut Hari Pendidikan Nasional

Kontruksi sistem pendidikan Indonesia hendaknya jangan lepas dari rel Pancasila yang juga menjadi dasar Pendidikan. Pada hakikatnya Pendidikan di Indonesia bukanlah untuk menciptakan orang-orang materialis yang mana setelah selesai sekolah maka dia melamar dan bekerja dengan sekedar mengharapkan bayaran berupa gaji. Materialism pendidikanlah yang dewasa ini sangat Nampak pada masyarakat kita, sehinga derajat Pendidikan di mata banyak orang tidak lebih dari sekedar tahapan formal yang harus dilalui dalam memperoleh suatu gelar, pujian, penghargaan dan posisi yang lebih baik. Hal tersebut menjadi salah satu indicator disamping masih banyaknya problematika Pendidikan Indonesia yang akan dibahas pada bagian selanjutnya.

Dengan demikian, sejatinya Pancasila lebih dihadirkan kembali dalam kontruksi sistem Pendidikan kita. Pendidikan Indonesia adalah Pendidikan yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Para pelajar hendaknya tidak diarahkan untuk hanya mengejar dunia materialis, misalnya hanya untuk bekerja, namun rasanya pendidikan kita mengalami kekeringan dalam hal spiritualitas, karena para alumni yang “ditelurkan” dari berbagai jenjang pendidikan, sangat sedikit yang memiliki orientasi untuk mengabdikan diri demi kemajuan kehidupan bangsa dan negara yang salah satunya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Sila ke-dua Pancasila hendaknya dijadikan sebagai dasar kontruksi sistem Pendidikan yang berdasarkan kemanusiaan yang adil dan beradab. Memanusiakan manusia (humanization) telah menjadi salah satu topik dalam ppendidikan kita sejak cukup lama, namun konsepsi humanization pada Pendidikan Indonesia bukanlah konsepsi yang digagas oleh Paulo Freire namun konsepsi yang berdasarkan sila ke-dua Pancasila. Dalam penyelenggaraan Pendidikan berdasarkan ancasila, bukan hanya menjadikan siswa sebagai subjek dalam pembelajaran, sehingga kebebasan dan sikap kurang menghormati kepada guru dijadikan akibat, namun Pancasila telah mengatur kemanusiaan dalam pelaksanaan Pendidikan yang adil dan beradab, artinya bukan hanya keadilan yang digagas dalam sistem Pendidikan Pancasila tetapi juga keberadaban (etika) yang mana terlupakan. Artinya jika kita bertanya-tanya mengenai banyaknya kasus penganiayaan guru oleh siswa atau sebaliknya, itu karena kita melupakan keberadaban Pendidikan (the educational virtue) yang harus dibangun dimana saling menghormati dan menyayangi menjadi dasar penyelenggaraan Pendidikan berbasis Pancasila.

Baca Juga :  Pencegahan Perilaku Korupsi Sejak Dini

Implementasi Pendidikan Pancasila yang berdasarkan sila ke-tiga yakni Persatuan Indonesia adalah dengan menjadikan Pendidikan sebagai upaya pemupukan jiwa-jiwa nasionalisme para peserta didik. Tentu kita telah sepakat dengan empat consensus dasar bangsa yakni Pancasila, UD NRI Tahun 1945, Sesanti Bhineka Tunggal Ika dan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai prinsip-prinsip kehidupan berbangsa dan bernegara. Empat consensus dasar tersebut hendaknya diintegrasikan pada seluruh mata pelajaran dan bukan hanya menjadi tanggung jawab mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan dan Pendidikan Agama saja. Melalui dakwah nasionalisme para pendidik dapat memperkuat kita sebagai suatu bangsa yang Bersama-sama mencapai tujuan nasional sebagaimana tertuang dalam Alinea ke empat Pembukaan UUD NRI Tahun 1945.

Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan yang merupakan sila ke empat Pancasila telah mengisyaratkan beberapa hal penting kepada kehidupan bangsa Indonesia termasuk sistem pendidikan. Dalam pembangunan sistem pendidikan di Indonesia, tidak hanya dapat dilakukan dengan kebijaksanaan secara umum, namun bangsa Indonesia memiliki falsafah yang lebih tinggi yakni hikmah kebijaksanaan yang diberikan oleh Tuhan yang maha kuasa. Selain itu. dinamika dan proses menjadi bagian penting yang harus dibangun sistem Pendidikan Indonesia untuk menciptakan anak bangsa yang unggul dan tidak berpikir praktis. Musyawarah mufakat yang diajarkan oleh para pendiri bangsa merupakan suatu cerminan bahwa segala sesuatu harus dilalui dengan mekanisme-mekanisme yang saling menghormati misalnya musyawarah untuk mufakat yang mana bukan hal yang mudah, karena harus dilakukan dalam waktu yang lama serta berbeda dengan voting yang lebih mencerminkan perilaku praktis.

Terakhir bahwa kontruksi pendidikan Indonesia hendaknya berdasarkan atas tujuan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Pendidikan yang berkeadilan selalu menjadi diskursus dalam banyak kesempatan. Dewasa ini pendidikan hampir dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat meskipun pada prakteknya masih tercipta kelas-kelas sosial dalam dunia pendidikan. Sekolah yang bagus maka bayarannya juga mahal dan sebaliknya, artinya hanya sedikit masyarakat miskin yang dapat menikmati sekolah yang terbaik di republik ini. Contoh lain adalah pendidikan di daerah 3T maupun daerah perbatasan masih jauh dari standar nasional Pendidikan atau sederhananya pendidikan di Jawa dan luar Jawa dalam segi sarana dan prasarana maupun kualitas gurunya masih belum sama, sehingga hal tersebut menciptakan kondisi kesenjangan social dalam bidang Pendidikan.

Baca Juga :  Sekolah : Antara Pembebasan dan Pemenjaraan

Dengan demikian pendidikan yang terus dibangun di tanah air tidak boleh jauh-jauh apalagi melupakan Pancasila sebagai dasar negara dan juga sebagai dasar kontruksi sistem Pendidikan. Kita harus berbangga sebagai bangsa yang memiliki dasar negara Pancasila dan sedang terus berupaya membangun Sistem Pendidikan Pancasila. Tujuan pendidikan bukan hanya mencerdasakan namun juga yang paling utama adalah menciptakan warga negara yang beriman dan bertakwa serta berakhlak mulia sebagaimana impelemntasi dari sila Ketuhanan Yang Maha Esa. Artinya kita memiliki suatu moto pendidikan yang lebih luhur dari sekedar pendidikan karakter yakni pendidikan akhlak mulia yang berdasarkan Pancasila.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *