Mahasiswa untuk Masyarakat atau Mahasiswa untuk Kampus ?

Oleh: Noviandi Harahap

(Mahasiswa S1 Pendidikan Kewarganegaraan, UPI)

Mahasiswa kerap diidentikan dengan kata perubahan. Bahkan seorang Ir. Soekarno dalam pidato nya pernah mengatakan “Berikan aku sepuluh pemuda, maka akan ku goncangkan dunia”. Maka, tidak lah berlebihan jika title agent of change berhak disematkan kepada mahasiswa. Tentu nya penyematan gelar itu tidak serta merta tanpa alasan, karena untuk merubah keadaan diperlukan individu-individu yang matang dalam inetelektual dan siap dalam mental. Dan semua hal itu terdapat dalam diri mahasiswa, hal ini sejalan dengan pendapat Ningtyas (2014) yang memandang mahsiswa sebagai insan akademis, yang memiliki kekuatan intelektual yang lebih sehingga kepekaan dan nalar yang rasional yang dapat berguna untuk memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan pendidikan dan sosial di masyarakat. Oleh karena itu, seorang mahasiswa memiliki tanggung jawab besar di dua tempat berbeda, yaitu di kampus sebagai insan akademis dan di masyarakatsebagai agen perubahan.

Beberapa diantara cara yang bisa dilakukan bagi mahasiswa untuk dapat mempersiapkan diri menjadi agen perubahan adalah dengan aktif di berbagai organisasi mahasiswa di kampus. Karena memang organisasi merupakan sarana mahasiswa untuk melatih kemampuan komunikasi dan emosi (emotional quotient), mahasiswa akan terlatih dalam menghadapi berbagai persoalan dan konflik yang terjadi. Kedewasaan berpikir mahasiswa akan semakin tumbuh seiring aktifnya berorganisasi di kampus (Pertiwi, dkk, 2015).

Namun, sangat disayangkan bahwa saat ini mahasiswa terjebak dengan berbagai kegiatan organisasi di kampus dan melupakan perannya sebagai agen perubahan yang seharusnya dekat dengan masyarakat. Banyak nya kegiatan intra dan ekstra kampus mengharuskan mahasiswa untuk menghabiskan waktu nya berlama-lama di kampus, bahkan seharian penuh dan baru pulang ke lingkungan tempat tinggal nya ketika malam hari. Disibukkan dengan berbagai rapat dan diskusi kegiatan, dan kerap mengaungkan slogan “demi kemajuan negara”, atau kalimat“demi kesejahteraan rakyat” yang sering tertera dalam proposal dan pamflet-pamflet mereka, padahal kegiatan itu dilaksanakan tidak lebih hanya sekedar memenuhi program kerja atau menjaga eksistensi organisasi itu sendiri agar tetap eksis dan terpandang oleh organisasi lain.

Baca Juga :  Kuda Hitam, Perlukah di Pilpres 2019?

Pada akhir nya semangat membangun masyarakat hanya lah sebagai penghias proposal dan pamflet-pamflet saja. Karena, jika benar mahasiswa mengabdi untuk rakyat maka untuk apa ia membuat berbagai kegiatan seminar di kampus dengan mahasiswa dan kalangan akademis sebagai sasaran peserta nya, bukan nya masyarakat. Bukan kah yang perlu di edukasi adalah masyarakat awam? Dan jika benar mahasiswa mengabdi untuk mahasiswa, maka untuk apa ia membuat berbagai kegiatan pementasan seni dan hiburan di kampus dengan mahasiswa juga yang menjadi peserta nya, bukan masyarakat. Bukan kah masyarakat juga butuh hiburan yang segar dan edukatif dari para mahasiswa? Maka sekali lagi perlu dipertanyakan, apakah benar mahasiswa itu untuk rakyat? Atau hanya untuk kampus, atau lebih parah lagi mahasiswa untuk mahasiswa itu sendiri?

Menurut Wahyu (2013) mahasiswa kos dalam berinteraksi dengan lingkungannya sangat minim. Minimnya interaksi sosial anak kos dengan lingkungannya antara lain disebabkan adanya internet, komunitas, selektif bergaul, dan kesibukan kuliah. Mahasiswa kos betah dan lebih suka mengakses internet berlama-lama dari pada bergaul dengan lingkungan masyarakat. Mahasiswa yang memiliki komunitas baru di di luar lingkungan kos seperti di kampus lebih mementingkan komunitasnya sendiri tanpa memperdulikan interaksi di masyarakat. Hal ini mengindikasikan bahwa sesungguhnya mahasiswa saat ini belum sepenuhnya berfungsi sebagai agen perubahan dalam masyarakat, Lingkungan tempat Ia tinggal hanya dijadikan sebagai tempat persinggahan semata untuk mengistirahatkan diri tanpa memperdulikan apa yang ada disekitarnya dan tidak pernah berpikir apa yang harus ia perbuat untuk lingkungan sosialnya.

Maka, cara sesungguhnya untuk menjalankan fungsi mahasiswa sebagai agen perubahan tidak hanya sekedar aktif di organisasi kampus, lebih dari itu seorang mahasiswa harus bisa mengaktifkan dirinya di kampus melalui berbagai kegiatan dan mengaktifkan dirinya pada lingkungan masyarakat sekitarnya. Karena sesungguhnya organisasi kampus itu hanyalah sebuah sarana latihan untuk menjadikan diri siap sebagai agen perubahan, dan praktek sebenarnya agen perubahan itu ialah lingkungan masyarakat. Sehingga, jangan jadi kan lingkungan tempat tinggal hanya sebagai tempat melepas penat, justru jadikan itu sebagai tempat mempraktikan segala ilmu yang sudah di dapat pada pembelajaran di kelas maupun di organisasi. Karena sesungguh nya tidak ada kata istirahat dalam bergerak dan tidak ada kata diam dalam meberontak.

Baca Juga :  Nasionalisme Sebagai Identitas Bangsa

 

SUMBER REFERENSI:

Pertiwi, dkk. (2015). Artikel Hubungan Organisasi Dengan Mahasiswa Dalam Menciptakan Leadership. [ONLINE]. Tersedia di: https://publikasiilmiah.ums.ac.id/bitstream/handle/11617/6041/Mustika%20Cahyaning%20Pertiwi.pdf;sequence=1 [31 Oktober 2017]

Wahyu P, Hudi .(2013). Interaksi Sosial Mahasiswa Kos Dengan Lingkungannya Di Yogyakarta. (Skripsi) Universitas GadjahMada, Yogyakarta. Tersedia di: http://etd.repository.ugm.ac.id/index.php?mod=penelitian_detail&sub=PenelitianDetail&act=view&typ=html&buku_id=63889 (31 Oktober 2017)

Wiwid Ningtyas, Widiya.. (2014). Artikel Peran Mahasiswa Dalam Mutu Pendidikan. [ONLINE]. Tersedia di: https://www.kompasiana.com/widiyawiwid777/peran-mahasiswa-dalam-meningkatkan-mutu-pendidikan_54f85807a33311f07d8b4732 [31 Oktober 2017]

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *