Kerusuhan di Mako Brimob dalam Persfektif Kewaspadaan Nasional

Oleh : Asep Ikbal

Anggota IKAL Lemhannas RI

 

Ringkasan Opini :

  • Problematika yang besar hampir tidak mungkin dilatarbelakangi oleh sebab yang kecil. Kerusuhan di Mako Brimob yang berjalan hampir 40 jam merupakan skenario yang kemungkinan besar adalah operasi asing untuk melakukan “tes ombak” dalam mengukur kekuatan Polisi Republik Indonesia.
  • Publik tanah air yang dewasa ini cenderung untuk mempersepsikan bahwa fenomena apapun yang terjadi tidak lain karena setting dari pemerintah. Pemerintah selalu dijustifikasi sebagai dalang. Hal tersebut mungkin dikarenakan oleh kekuasaan dan akses pemerintah yang sangat besar.
  • Dari kondisi tersebut setidaknya ada dua hal yang dapat menjadi evaluasi bagi pemerintah dan kita rakyat Indonesia. Pertama kewaspadaan nasional kita termasuk kehti-hatian terhadap politik adu domba (dvide et impera) baik antar kelompok masyarakat hingga masyarakat dengan pemerintah. Kedua bahwa kondisi tersebut memberikan suatu pembuktian tentang turunnya mutu dan kualitas dari para personil anggota Polisi.

 

Sangat mengherankan mengapa kambing berani mengacak-ngacak bahkan menerkam macan. Mungkin hal itulah yang menjadi perhatian publik disamping kepiluan karena nasib buruk yang menimpa para anggota Brimob yang sedang bertugas. Berdasarkan berbagai klarifikasi dari Brigjen Pol. M. Iqbal, diketahui bahwa latar belakang dari kerusuhan yang menewaskan 5 anggota anggota polisi brimob dipicu karena hal sepele, yakni karena dipicu soal makanan. Apakah cukup logis bagi kit ajika hal sepele seperti itu dianggap sebagai pemicu yang rasional? Isu apa yang sebenarnya dapat mengasosiasi para nara pidana untuk melakukan pemberontakan? Tidakkah kita melihat suatu scenario besar di balik kejadian tersebut? Mengapa para nara pidana begitu berani kepada anggota brimob dan akhirnya harus menyerah dan tidak secara konsisten melakukan pemberontakan?

 

Sang Penunggang Kambing

Sesaat setelah meletusnya peristiwa tersebut, maka bermunculanlah berbagai spekulasi baik yang muncul, salah satu spekulasi yang membahayakan adalah pengkambinghitaman pemerintah sebagai dalang dari kondisi tersebut, bahkan telah membuat semacam broadcast yang disebarkan di media-media sosial. Entahlah apa yang membuat masyarakat menjadi sangat mudah memberikan justifikasi terhadap suatu kasus meskipun penilaiannya sangat dangkal. Persepsi yang membentuk opini publik demikian jelas sangat sukar untuk dipertanggungjawabkan.

Baca Juga :  Menyoal Akar Permasalahan Bangsa Indonesia

Di tahun politik ini masyarakat senantiasa digiring ke dalam sebuah lubang persepsi bahwa apapun yang terjadi tidak lain sebagai suatu strategi atau setting politik dari kelompok tertentu terhadap kelompok lain yang menjadi lawan, namun kita menjadi lupa terhadap variable lain yang sangat mungkin terjadi, terutama factor intervensi asing dalam melakukan control terhadap suatu negara guna tujuan penguasaan. Pertanyaan sangat logisnya, jika pemerintah atau penguasa yang membuat setting semacam itu, lalu apa keuntungannya? Sebelum itu berakhir justru pemerintah yang mulai di serang, artinya kita tidak dapat memandang ini dengan kecamata pilpres 2019.

Kesempitan berpikir yang demikian akan dimanfaatkan oleh pihak-pihak lain yang berkepentingan namun tidak dihitung sebagai variable. Kita tentu tidak asing lagi dengan berbagai ancaman dari luar negeri baik yang bersifat militer maupun non militer. Ancaman militer dari luar bukan hanya berupa invansi tantara, namun juga meliputi spionase bahkan proxy war. Jaringan terorisme yang kita kenal nyatanya juga selalu berhubungan dan terkait dengan jaringan terorisme internasional, termasukpun founding dalam menjalankan berbagai operasi bersumber dari luar negeri

Artinya bahwa para pelau yang merupakan tahanan teroris tersebut memiliki jaringan dengan pihak-pihak yang berkepentingan tersebut. Jika para pelaku adalah kambing lalu siapa sebenarnya yang menungganginya? Hal inilah yang hingga saat ini masih menjadi misteri. Jika orang berpikir bahwa sangat spekulatif bahkan dikatakan berlebihan jika negara lain atau actor politik internasional yang menjadi dalang dalam kerususahn di Mako Brimob, maka setidaknya kita harus memperhatikan kejanggalan dari kejadian tersebut. Pertama bahwa yang menjadi sebab kerusuhan sangatlah sepele, yakni masalah makanan untuk napi dari keluarganya. Naun beberapa waktu kemudian, teriakan dari pelaku yang diduga provokator, sontak memulai kerusuhan. Artinya disana kita melihat bahwa itu bukanlah teriakan biasa, melainkan sebuah kode komando untuk dimulainya kerusuhan. Dengan demikian kerusuhan di Mako Brimob merupakan suatu pelaksanaan dari rencana atau scenario yang telah tersusun sebelumnya.

Baca Juga :  Krisis Keteladanan, TNI Jadi Harapan : Mewujudkan Prajurit TNI Pancasilais sebagai Teladan Bangsa dalam Menyambut HUT RI dan HUT TNI ke-72

Kerusuhan yang terjadi selama hamper 40 jam diakhiri dengan suatu kekonyolan dari para napi, yakni mereka menyerahkan diri. Selemah itukah ideologi perjuangan para teroris? Atau mungkin sebusuk itu strategi yang digunakan? Mengapa dramanya begitu buruk? Jika pemberontakan yang dilakukakn bahkan sudah membabi buta, mengapa tidak berjuang sampai mata saja para teroris itu? akhirnya ini jelas-jelas menjadi suatu keraguan public mengenai ideologi teroris yang selama ini meresahkan dunia. Jika “jihad” yang melandasi tindakan mereka, maka mati adalah kenikmatan atau “syahid”. Dengan demikian kita cukup yakin, bahwa tidak ada teroris yang berjuang untuk agama manapun, dan teroris adalah musush Bersama kita karena lebih tepatnya terorisme sebagai suatu manifestasi dari kekuatan politik global dalam menguasai suatu negara.

 

Persatuan Demi Kesatuan

 

Boleh kita mengatakan bahwa sebenarnya masalah politik antara kubu pro pemerintah dengan oposisi hanyalah secuil masalah dalam dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara. Terdapat suatu masalah yang lebih besar dari itu semua, yakni variable politik secara internasional baik itu akto politik internasional, negara-negara hingga pada organisasi-organisasi politik internasional. Hari ini secara logis telah terbukti bahwa sangat sulit pemerintah yang menjadi dalang semua ini.  Pada akhirnya yang dapat kita ingat adalah mengenai konsepsi kewaspadaan nasional. Kewaspadaan nasional yang dikembangkan oleh Jendral Besar Sudirman telah membawa semacam pemikiran mengenai pertahanan dan keamanan hingga akhirnya negara kita menggunakan sistem pertahana dan keamanan rakyat semesta (Sishankamrata).

Ancaman, Tantangan, Hambatan dan Gangguan (ATHG) baik dari dalam maupun luar negeri dijadikan sebagai dasar atas dibentuknya pola pertahanan dan keamanan yang sedemikian rupa. Oleh karena itu negara lainpun segan untuk mengacak-acak negara Indonesia maupun negara lain yang memiliki konsepsi pertahanan dan keamanan yang baik. Lalu untuk tetap melakukan control utamanya terhadap negara-negara ketiga, maka spionase menjadi salah satu cara yang biasa dilakukan. Adanya agen-agen asing baik itu berkedok investor, wisatawan hingga teroris, lalu apa hubungannya dengan kerusuhan yang dilakukan oleh para napi teroris di Mako Brimob?

Baca Juga :  Hentikan Lelucon di Negeri Ini

Dalam teori politik, terdepat suatu teori yang dikenal dengan teori tes mbak. Mungin bagi para aktivis, istilah tersebut tidak asing lagi, mengingat sering digunakan dalam melakukan pengukuran terhadap kekuatan lawan dengan respo yang diberikan. Sama halnya dengan kepentingan asing yang ingin mengukur seberapa kuat personil dan konsep keamanan Indonesia. Lalu mengapa Brimob yang dipilih? Brimob merupakan salah satu grup/ korps kepolisian yang kemampuan anggotanya di atas rata-rata anggota polisi biasa, sehingga kekuatan polisi republic Indonesia dapat lebih terukur dengan sampel anggota yang memiliki kekuatan di atas rata-rata.

Hasilnya 5 orang anggota Brimob terbunuh oleh para napi, mungkin sama halnya ketika kambing yang dikandangnya kemudian memberontak dan membunuh macan-macan yang menjadi penjaga. Dari kondisi tersebut setidaknya ada dua hal yang dapat menjadi evaluasi bagi pemerintah dan kita rakyat Indonesia. Pertama kewaspadaan nasional kita termasuk kehti-hatian terhadap politik adu domba (dvide et impera) baik antar kelompok masyarakat hingga masyarakat dengan pemerintah. Meskipun pemerintah hingga hari ini masih gagap untuk mengatakan siapa yang sebenarnya bertanggungjawab, namun rasanya kepercayaan kepada pemerintah untuk mengurus berbagai ancaman dari luar negeri harus kita tingkatkan.

Kedua bahwa kondisi tersebut memberikan suatu pembuktian tentang turunnya mutu dan kualitas dari para personil anggota Polisi. Meskipun dikatakan bahwa Brimob yang meninggal dikeroyok atau dalam keadaan tidak siap, justru hal tersebut yang menjadi persoalan. Sejatinya anggota polisi maupun TNI harus selalu siap siaga dengan berbagai kondisi, sehingga tidak seharusnya terjadi kejadian yang menyedihkan ketika macan dicabik-cabik oleh Kambing. Dengan demikian, pemerintah dan seluruh warga negara Indonesia harus lebih serius lagi dalam menjalani kehidupan Bersama yakni kehidupan bangsa dan negara dengan saling menjaga dan membesarkan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *