Nasionalisme Sebagai Identitas Bangsa

Oleh:

Fransiskus M.P Keraf

Ringkasan: 

  • Semangat kemerdekaan diartikan sebagai penguatan sikap nasionalisme
  • Mencintai produk dalam negeri dan melestarikan kebudayaan daerah merupakan cara yang ampuh untuk meminimalisir hegemoni produk dan kebudayaan asing

Kemerdekaan merupakan impian dan juga cita – cita sebuah bangsa. Sebuah bangsa yang merdeka tentunya selalu diidentikkan dengan bebas dari penjajah dan intervensi bangsa lain. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan adanya kebebasan untuk menentukan nasibnya sendiri. Kebebasan untuk menentukan nasib sendiri adalah ciri dari sebuah bangsa yang mandiri. Begitupun halnya dengan situasi yang tengah dihadapi Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai ini. Indonesia saat ini telah berusia 73 tahun, suatu usia yang tidak bisa dikatakan muda lagi. jika kita sandingkan dengan usia manusia normal maka bisa dikatakan sebagai “sesepuh”. Usia sesepuh merupakan pertumbuhan yang tidak labil lagi bagi suatu bangsa, melainkan bangsa yang telah matang dalam setiap pembuatan kebijakan hinga proses pengambilan keputusan. Untuk mewujudkan kematangan itu tentunya bukan sekedar membalikkan telapak tangan atau menjadi tanggung jawab pemerintah saja. Hal tersebut akan sangat berdampak dari peran serta warga negara dalam mendukung setaip perencanaan dan kebijakan dalam bentuk kedaulatan rakyat. Partisipasi dalam bentuk kedaulatan rakyat inilah yang harus direalisasikan dalam menjaga keeksistensian bangsa yang besar ini. Bangsa yang terlahir dengan semangat dan juga harapan yang besar dalam menggapai cita – cita luhur sebagaimana tertuang dalam konstitusi bangsa.

Dewasa ini setiap warga negara yang hidup dalam suasana kemerdekaan selalu bertanya – tanya tentang apa yang harus mereka lakukan dalam kehidupan ini. Dalam kehidupan sehari – hari pun terkadang banyak aktivitas yang secara tidak sengaja telah mencerminkan perilaku positif sebagai bentuk ketaatan terhadap negara. Sebaliknya ada pula perilaku yang secara sengaja ataupun tidak, telah memicu keretakan atau disintegritas bangsa.  Perilaku ini seakan – akan terkesan bahwa warga negara harus memberikan sumbangsih positif melalui hal –hal yang bersifat formal saja. Padahal, perilaku – perilaku ini cukup dimulai dari hal yang sederhana dalam proses sosialisasi bernegara.

Berdasarkan pandangan diatas, maka sesungguhnya untuk mewujudkan atau merealisasikan perilaku dalam rangka menjaga dan juga mengisi kemerdekaan ini merupakan suatu hal yang cukup mudah. Perilaku yang mula – mula harus dilakukan atau ditumbuhkan Warga Negara Indonesia untuk mengisi kemerdekan ini adalah wajib memiliki jiwa KEMERDEKAAN dalam kehidupannya sehari – hari. Jiwa kemerdekaan inilah yang mencerminkan semangat para pendiri negara dalam memperjuangkan kebebasan bangsa ini. Semangat ini  bukan diartikan sebagai semangat melawan penjajah, melainkan semangat yang diartikan sebagai orientasi Warga Negara Indonesia dalam mengisi kemerdekaan yang telah dititipkan ini. Hal tersebut tentunya berlandaskan bahwa saat ini Indonesia telah bebas dari penjajahan sehingga diperlukan bentuk aktualisasi sikap maupun perilaku dalam wujud yang berbeda. Sikap dalam wujud yang berbeda ini bukan berarti bahwa menumbuhkan semangat yang baru, melainkan tetap mempertahankan semangat kemerdekaan yang diwarisi itu untuk diaktualisasikan warga negara menurut keberagaman cara dan persepsi yang berbeda setiap individu. Keberagaman cara inilah yang mencerminkan pola tingkah laku masyarakat Indonesia yang majemuk dalam kehidupan bernegaranya untuk tetap berbasis satu tujuan.  Jika saja kita mampu menganalisanya dengan baik, maka dapat disimpulkan bahwa semangat kemerdekaan itu diartikan sebagai penguatan sikap nasionalisme. Inilah sikap atau karakter yang harus dijiwai setiap warga negara yang hidup di era kemerdekaan ini. Sikap yang merupakan satu dari sekian banyak karakter yang diwarisi oleh para founding father untuk tetap dilestarikan aktualisasinya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Baca Juga :  Mengenal Sosok Ibu Indonesia

Kita semua tentunya selalu megingat lagu “tujuh belas agustus tahun 45, itulah hari kemerdekaan kita, hari merdeka, nusa dan bangsa, hari lahirnya bangsa Indonesia, merdeka, sekali merdeka tetap merdeka, selama hayat masih dikandung badan, kita tetap, setia, tetap setia, mempertahankan Indonesia”. Dari lagu tersebut kita dapat mencermati bahwa jiwa nasionalisme itu tergambar jelas dalam setiap liriknya. Semangat ini yang harus menjadi landasan berpikir dan bertindak semua Warga Negara Indonesia dalam melaksanakan aktivitas dan juga pola bersosialisasi daalam masyarakat. Suatu hal yang tidak perlu diperdebatkan lagi, melaikan sudah harus dimiliki sekaligus dijiwai oleh seluruh Warga Negara Indonesia baik dari golongan tua maupun golongan muda dalam mengisi kemerdekaan ini. Sikap nasionalisme ini dapat diartikan sebagai rasa memiliki dan mencintai tanah air dengan mengutamakan kepentingan negara diatas kepentingan pribadi.

Berdasarkan pemikiran diatas maka untuk mewujudkan sikap nasionalisme dalam kehidupan bernegara ini, oleh setiap warga negara bisa dawali dari hal – hal yang sederhana. Hal sederhana yang pada akhirnya mampu membawa suatu perubahan besar dalam setiap pola perilaku maupun tingkah laku bernegara. Salah satu cara yang saat ini dinilai telah ditinggalkan oleh sebagian masyarakat indonesia namun tetap memiliki potensi yang cukup signifikan adalah mencintai produk dalam negeri. Dewasa ini, tidak bisa dipungkiri lagi bahwa dengan adanya  perkembangan dunia yang semakin cepat, maka setiap negara berlomba – lomba untuk menciptakan produk – produk baru demi menguasai pasar. Hal tersebut dapat terlihat secara nyata bahwa produk – produk atau brand asing mulai dipromosikan melalui jejaring sosial ataupun melalui media elektronik dan cetak. Hal ini semakin diperparah dengan banyaknya brand asing yang mulai membanjiri outlet – outlet di Indonesia. Tentunya hal ini tak dapat dicegah, namun bangsa Indonesia mampu meminimalisir hal tersebut melalui rasa cinta tanah air warga negaranya. Sikap nasionalisme ini tentunya harus ditumbuhkan melalui rasa bangga untuk menggunakan produk dalam negeri. Rasa bangga menggunakan produk dalam negeri ini sesungguhnya merupakan awal dari pembentukan karakteristik yang khas dan juga identitas diri dari bangsa Indonesia.

Baca Juga :  Peranan Ulama dalam Negara Demokrasi : Antara Otoritatif dan Otoriter

Berdasarkan hal diatas, di Indonesia kita selalu mendengar bahwa batik merupakan salah satu ikon bangsa ini. Apa yang terjadi apabila batik disandingkan pada pameran busana internasional? Mungkin hanya satu jawaban bagi orang asing yang telah mengenalnya, yakni “Itu Indonesia”. Jikalau saja orang asing mampu untuk mengenal produk itu, maka rakyat Indonesia sudah saatnya untuk menjadikannya sebagai identitas diri pada bangsa yang mandiri ini. Pemasarannya pun cukup mudah jika saja semua pihak (stake holder) bangsa ini mampu untuk bekerja sama mempromosikan batik ke kancah internasional. Hal tersebut bisa diawali dari mewajibkan semua warga negara untuk menggunakan batik sebagai busana utama dalam setiap pasrtisipasi mereka di event – event internasional. Konser internasional, olimpiade sains dan olahraga, hingga event busana merupakan wadah yang paling cocok untuk mempromosikan batik ke kancah dunia. Dengan cara tersebut maka bukan tidak mungkin metode ini menjadi salah satu strategi yang paling ampuh dalam menangkal hegemoni brand asing.

Terlepas dari pandangan diatas, cara lain yang dianggap mempunyai peran yang cukup besar dalam menguatkan sikap nasionalisme adalah melestarikan kebudayaan daerah. Indonesia terlahir sebagai bangsa yang majemuk dan beraneka ragam. Dengan letak yang berjauhan setiap darahnya, maka  setiap wilayah selalu berusaha untuk menciptakan kekhasan dan juga karakteristik masing – masing. Kekhasan dan karakteristik inilah yang menjadi ikon saetiap daerah dalam setiap perjumpaan maupun penampilan identitas daerah. Hal tersebut dapat terlihat pada berbagai keanekaragaman budaya bangsa yang telah berkembang di seluruh penjuru tanah air. Keanekaragaman budaya itu nampak pada perbedaan bahasa, lagu daerah, tarian daerah, adat istiadat, hingga busana daerahnya. Hal – hal tersebut merupakan suatu warisan leluhur yang tetap dipertahankan oleh pengikutnya untuk dilestarikan kepada generasi penerusnya. Dengan tetap dipertahankannya kebudayaan itu maka dengan sendirinya akan mempunyai dampak pada kekayaan budaya sejarah bangsa ini. Satu hal yang paling mencolok adalah proses pelestarian kebudayaan daerah khususnya tarian tradisional. Banyak sekali budaya asing yang menghampiri bangsa ini dan secara langsung diterima oleh warga negara tanpa melalui suatu proses filterisasi. Sebut saja dugem (dunia gemerlap), dansa, hingga budaya K–POP yang telah menjamur pada segelintir masyarakat Indonesia. Dengan adanya proses asilmilasi ini maka dapat kita saksikan bersama, bahwa hal tersebut telah berdampak pada cara berbicara, bersikap, berbusana hingga gaya hidup (life style). Jika saja hal ini tetap dilestarikan maka bukan tidak mungkin identitas bangsa yang telah lama dibangun dengan berpondasikan budaya bangsa ini akan terkikis dengan hadirnya budaya – budaya tersebut. Oleh karena itu, cara yang dianggap mampu untuk meminimalisir hal tersebut adalah menghadirkan rasa memiliki terhadap kebudayaan sendiri. Cara tersebut bisa diawali dari kebijakan pemerintah untuk menggunakan pakaian tardisisonal daerah pada hari kerja tertentu. Penggunaan pakaian daerah ini harus berimbas pada aktivitas persekolahan hingga perkantoran. Dengan cara seperti itu, maka dengan sendirinya akan membatasi penggunaan brand asing oleh masyarakat. Selain hal diatas, ada pula mewajibkan memutarkan lagu – lagu daerah sebagai sarana literasi masyarakat sebelum melakukan aktivitas baik yang di sekolah maupun perkantoran. Terlepas dari kedua hal tersebut, hal lain yang dianggap sangat mendukung proses pelestarian budaya daerah adalah selalu mengadakan perlombaan atau event tarian tradisional baik di tingkat regional maupun nasional. Dengan adanya kegiatan tersebut maka secara tidak langsung pemerintah telah mampu untuk merangsang warga negaranya untuk lebih mengenal secara mendalam tentang tarian tradisional masing – masing. Indonesia telah memiliki tari legong dari Bali, tari topeng dari Jakarta, tari jaipong dari Jawa Barat, tari ponorogo dari Jawa Timur, tari lenso dari Maluku, tari kipas dari Sulawesi selatan, dan masih banyak tarian tradisional yang tersebar luas di bumi nusantara ini. Dengan adanya proses pelestarian ini maka dengan sendirinya kita dapat menyaksikan proses lunturnya budaya asing secara perlahan.

Baca Juga :  Mahasiswa untuk Masyarakat atau Mahasiswa untuk Kampus ?

Berdasarkan pandangan – pandangan diatas, maka dapat dikatakan bahwa bangsa Indonesia saat ini harus memiliki jiwa kemerdekaan yang diintegrasikan ke dalam sikap nasionalisme. Sikap yang tergambar secara jelas dalam jiwa kemerdekaan dan tersirat secara nyata dalam lagu “17 Agustus tahun 45”. Sehingga, dengan adanya upaya menguatkan nilai – nilai dan juga pola tingkah laku dalam masyarakat seperti yang disebutkan diatas, maka akan berdampak pada penguatan sikap nasionalisme warga negaranya. Sikap nasionalime inilah yang pada akhirnya menampilkan jati diri dan juga identitas bangsa sebagai bangsa yang mandiri.

(ar/fe)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *