Warga Negara Pendukung Hoax dalam Bingkai Negara Demokrasi

Oleh : Asep Ikbal

Anggota Ikatan Alumni ToT Lemhannas RI

 

Ringkasan Opini :

  • Reformasi telah membuka kran partisipasi bagi masyarakat baik untuk menyampaikan ide, gagasan maupun kritik terhadap pemerintah khususnya, sehingga hampir semua warga negara ingin berbicara dan didengarkan meskipun terkadang tidak ingin mendengar orang berbicara. Disamping itu, rasa ingin mengemukakan pendapat yang tidak disertai dengan tanggung jawab hanya akan menciptakan demokrasi yang tidak berisi.
  • Kemajuan teknologi informasi yang semakin pesat berakibat pada terciptanya transformasi informasi yang dewasa ini banyak berkembang di sosial media, namun literasi informasi yang rendah justru akan dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang memiliki kepentingan politik dan finansial untuk menjadikan media sosial sebagai alat propaganda.
  • Berkembangnya hoax tidak akan begitu pesat jika tidak ada dukungan dari kelompok warga negara yang juga ikut menyebarluaskan berita hoax atau dapat dikatakan sebagai distributor hoax. Salah satu penyebab seorang warga negara dapat menjadi distributor hoax tanpa disadarinya adalah karena kebutuhan eksistensi yang tinggi namun memiliki literasi yang rendah
  • Satu-satunya cara untuk memberantas hoax adalah dengan meningkatkan intelektualitas bangsa Indonesia, karena musuh hoax yang paling kuat adalah literasi warga negara yang tinggi. Tingkatkan intelektualitas maka hoax akan menurun.

Ciri utama dari negara demokrasi adalah terbuka lebarnya kesempatan untuk warga negara dalam berekspresi dan menyampaikan pendapat. Negara demokrasi yang melarang warga negaranya dalam berpendapat sekalipun pendapat tersebut bertentangan dengan kepentingan rezim hanyalah bagian dari paradoks demokrasi. Reformasi telah membuka kran partisipasi warga negara dalam ikut serta membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dewasa ini kita telah benar-benar melihat dan merasakan dampak dari perubahan yang drastis dalam kehidupan berdemokrasi kita dengan semua orang menyampaikan gagasan dan pemikirannya artinya hampir semua orang ingin bicara soal negara ini, baik berbicara persoalan masalah-masalahnya, persoalan pemimpinnya, persoalan kesulitan hidup dan sebagainya. Hal tersebut merupakan aktualisasi dari warga negara yang demokratis, karena setiap manusia memiliki potensi untuk mengkritik, mengeluh dan berpendapat secara umum, namun itu dikembalikan kepada sistem yang dipergunakan. Jika otoritarianisme yang dipilih, niscaya potensi tersebut akan dimatikan.

 

Persoalan yang muncul dari keterlibatan warga negara yang tinggi namun tidak disertai dengan rasa tanggung jawab bahkan yang terendah tidak disertai dengan suatu keyakinan dari suatu informasi yang disebarkan. Perkembangan teknologi informasi telah memberikan ruang baru bagi warga negara untuk mengikuti perkembangan informasi melalui media sosial sehingga terbentuklah istilah netizen by socmed (network citizent by social media). Rasa partisipasi yang tinggi namun tidak disertai rasa tanggungjawab yang tinggi, akhirnya menimbulkan suatu problematika kehidupan bernegara dengan banyaknya berita hoax yakni berita yang kualitasnya lebih rendah dari informasi sampah karena memiliki nilai kebenaran di bawah nol, sehingga tidak sedikit yang tertipu dan menimbulkan kegaduhan publik. Lalu mengapa hal tersebut dapat terjadi? Apa yang bisa dilakukan oleh pemerintah dan warga negara?

Baca Juga :  Pekerjaan Manusia Akan Diambil Alih Robot?

 

Media Sosial sebagai Alat Propaganda

Ada orang yang selalu ingin memanfaatkan sesuatu hanya demi kebutuhan semata, namun tidak sedikit juga orang yang memanfaatkan sesuatu karena hasrat atau nafsu kekuasaannya. Media social yang semakin berkembang sangat dibidik oleh kelompok-kelompok yang memiliki kepentingan untuk melakukakn hegemoni atau dengan kata lain untuk menguasai otak pengguna sosial media tersebut. Hal ini sudah sangat lumrah dalam logika politik, karena segala instrument yang dapat menimbulkan keuntungan haruslah dimanfaatkan. Dalam teori organisasi, hakikat dari kepemimpinan adalah seni untuk mempengaruhi dan menarik orang lain agar mengikuti keinginan, pemikiran atau kehendak dari seorang pemimpin. Dalam terminology umum, kita tidak dapat memisahkan kepemimpinan dan kekuasaan, karena mustahil suatu kekuasaan dapat termanifestasikan dengan baik tanpa kepemimpinan yang baik dan sebaliknya.

Beberapa contoh yang sangat akrab akhir-akhir ini adalah hestag ganti presiden 2019 yang juga dipopulerkan oleh Presiden. Sebagian kita mungkin bertanya-tanya, mengapa presiden khususnya begitu takut kepada hestag semacam itu? sehingga mulai ada wacana pelarangan bahkan tindakan tersebut dianggap sebagai gerakan anti Pancasila. Sungguh aneh kelihatannya, namun itu sangat masuk akal, pasalnya dengan semakin digencarkannya kampanye semacam itu, akan menimbulkan suatu opini public bahwa 2019 nanti memang rasa-rasanya kita harus mengganti presiden, karena penerima informasi akan menghubung-hubungkannya dengan kondisi sosial dan psikologis yang dirasakannya ketika Indonesia dipimpin oleh presiden yang sekarang. Lantas mengapa presiden tidak mengerahkan timnya untuk membuat hestag yang sama secara lebih besar tentang 2019 tetap Jokowi? Ditinjau dari kecamata kepemimpinan, sungguh tidak layak hal tersebut dilakukan. Akhirnya Indonesia akan terbelah secara politik yang mungkin saja akan berdsampak lain dan lebih mengerikan dari yang kita bayangkan. Di sisi lain, ketika presiden ingin membuat suatu larangan mengenai hal semacam itu, maka itulah suatu tanda-tanda pemerintah mulai menuju kea rah otoritarianisme. Akhirnya pemerintah harus bisa menjadi orang tua dengan kebijaksanaan untuk semua, jika merasa takut, maka perbaiki kinerja dan kembalikan kepercayaan public.

Baca Juga :  Dua Tahun Jokowi, PNS tak Naik Gaji

Kondisi di atas menggambarkan bagaimana suatu hal yang dilakukan seperti hestag dapat menimbulkan opini publik. Maksudnya bahwa propaganda itu bisa dilakukan oleh siapa saja yang memiliki kepentingan selama dapat dikerjakan, tujuannya adalah untuk mencari pendukung-pendukung konsepsi tersebut. Warga negara digital harus lebih melek informasi (information literacy) karena media social dijadikan sebagai alat dan ajang pencari dukungan akan terus dilakukan selama kebebasan berpendapat yang tidak disertai rasa bertanggung jawab masih terus dilakukan.

 

Pendukung Berkembangnya Hoax

Modal utama dari terselenggaranya negara adalah kepercayaan, ketika kita memilih seorang yang kemudian akan menjadi pemimpin, amka kita memberikan kepercayaan kepadanya untuk mengurus negara ini agar dapat dirawat dan dimajukan. Begitupun para calon yang bekontestasi dalam pemilihan umum, harus memiliki kepercayaan bahwa rakyat adalah teman yang harus dijaga kepercayaannya dan tidak akan mencelakakan dirinyaditengah perjalanan kepemimpinannya kelak, sehingga pemimpin harus mengorientasikan pembangunan atas dasar kepentingan rakyat. Namun yang terjadi dewasa ini di banyak negara demokrasi khususnya Indonesia adalah berkembangnya ketidakpercayaan (distrust) terhadap pemerintahan baik eksekutif, legislative maupun yudikatif. Hal tersebut sangat berbahaya, karena semua pohak dapat memproduksi berita-berita atau informasi-informasi palsu (hoax).

Kita katakan bahwa pihak-pihak yang memproduksi berita hoax adalah sebagai produsen hoax baik itu pemerintah yang membuat data-data palsu untuk “menenangkan” masyarakat maupun kelompok oposisi yang membuat data-data palsu untuk mengganggu bahkan menjatuhkan kekuasaan rezim. kita harus berpikir adil bahwa semua pihak dapat memproduksi hoax, meskipun Rocky Gerung menyatakan bahwa “hanya pemerintah yang dapat membuat kebohongan dengan sempurna, karena pemerintahlah yang memiliki semua instrument untuk berbohong, baik itu intelejen, media maupun data statistic”. Lalu siapa konsumen dari hoax itu? konsumen hoax adalah warga negara yang ingin memperoleh berbagai informasi dengan harapan dapat meningkatkan pengetahuan dan update mengenai perkembangan negara tanpa menyebar kembali informasi yang diterimanya, namum sayangnya kelompok konsumen hoax ini memiliki literasi yang rendah, sehingga tidak memiliki kemampuan untuk menyaring kebenaran suatu informasi yang diterimanya.

Baca Juga :  Nasib Putra-putri Berprestasi Bangsa Indonesia

Adapun kelompok distributor hoax atau kelompok yang mendistribusikan berita bohong adalah warga negara yang menerima suatu informasi dari produsen hoax dan secara sadar atau tidak sadar bahwa yang diterimanya adalah berita hoax, kemudian menyebarkan informasi tersebut kepada sebanyak-banyaknya teman di media sosialnya. Jika dipandang dari segi lierasi, maka kelompok distributor hoax terbagi ke dalam tiga kelompok kecil. Pertama adalah distributor hoax yang secara politik memiliki kepentingan, artinya ada hubungan khusus dengan para produsen hoax. Kelompok ini secara massif menyebarkan berita hoax dengan disertai tanggungjawab kepada atasannya dan bukan kepada kebenaran. Kedua adalah distributor hoax dengan literasi yang rendah. Kelompok ini sangat mempedulikan negara dengan terus mengikuti perkembangan yang terjadi, selain itu sikap ingin mengajak orang lain untuk membaca informasi yang menurutnya baik membawanya untuk membagikan suatu informasi bernilai hoax, akhirnya hoax semakin berkembang karena pengetahuan dan literasi yang masih rendah. Ketiga adalah kelompok distributor hoax yang hanya ingin mencari eksistensi. Kelompok jenis ini pada dasarnya tidak memiliki kepentingan politik ataupun finansial, namun memiliki literasi yang lebih rendah daripada kelompok kedua. Informasi yang diterima oleh orang dalam kelompok ini biasanya hanya dibaca judulnya saja dan tidak sampai selesai dibaca. Jika dirasa bagus, maka kemudia dia langsung share kepada teman-temannya yang lain. Tujuannya hanya agar dirinya dipandang sebagai orang cerdas, punya informasi dan peduli, artinya eksistensi yang dijadikan sebagai tujuan utama dari kelompok ini.

Dari ketiga kelompok tersebut, hendaknya kita mulai memperhitungkan, masuk ke kelompok manakah kita sekarang ini? Jika kita gemar melakukan share informasi yang sebenarnya hoax, maka kita adalah warga negara yang mendukung berkembangnya hoax. Hitler pernah berkata bahwa “katakanlah kebohongan itu secara berulang-ulang, maka itu akan dianggap sebagai kebenaran”. Literasi informasi menjadi satu-satunya cara agar hoax itu mati. Jika intelektualitas ditingkatkan, maka hoax akan semakin turun. Artinya bahwa pemberantasan hoax bukanlah dengan membentuk tim anti hoax dan sebagainya, namun cukup tingkatkan intelektualiatas warga negara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *