Hegemoni Dunia Lewat Narkoba Dalam Meruntuhkan Moral Nasional

Oleh : Asep Ikbal
Alumni ToT Nilai-nilai Kebangsaan Lemhannas RI
Ringkasan Opini :
  • Penyalahgunaan narkoba di Indonesia sudah berlangsung sejak beberapa puluh tahun yang lalu, namun kini penyebarannya semakin massif dengan jumlah pengguna lebih dari 5 juta orang dan kebanyakan penggunanya adalah generasi muda yang frustasi. Frustasi warga negara hendaknya menjadi suatu kajian dalam diskursus sebagai akar semakin eksisnya narkoba
  • Narkoba tidak hanya dapat hilang dengan upaya pemberantasan saja namun juga pencegahan, namun hingga saat ini kita selalu terjebak oleh definisi “pencegahan” yang dikerdilkan yakni melalui seminar, penyuluhan dan hal-hal normative lainnya, padahal latar belakang orang menggunakan narkoba bukan karena factor ketidaktahuan tentang bahaya narkoba, namun factor ekonomi, politik, social dan budaya
  • Narkoba dijadikan sebagai instrument untuk meruntuhkan moral generasi muda yang dikemudian hari akan menjadi pemimpin. Upaya degradasi moral suatu bangsa melalui narkoba memiliki tujuan pokok yakni untuk melemahkan ketahanan nasional suatu negara karena moral nasional merupakan salah satu factor dinamis ketahanan nasional.

 

Eksistensi narkoba sudah berkembang jauh sebelum gadget, game online dan teknologi lainnya muncul di masyarakat, bahkan narkoba sebagai obat penghilang rasa sakit telah dikenal sejak puluhan tahun yang lalu. Pada awalnya narkotika diperuntukan bagi penghilang rasa sakit dan yang kesulitan tidur. Sejak tahun 1898 narkotika diproduksi oleh perusahaan Bayer dengan tujuan tersebut, namun pada perkembangannya justru narkoba (narkotika dan obat berbahaya) justru disalahgunakan untuk kepentingan lainnya. Jika mengamati perkembangan narkoba, orientasi para pemasok barang haram tersebut hanyalah kepada keuntungan ekonomi serta para penggunanya memiliki ketergantungan baik karena banyaknya masalah ataupun karena kebutuhan sehingga diperlukannya penggunaan narkoba. Namun kini masyarakat dunia khususnya Indonesia yang menggunakan narkoba bukan lagi terbatas pada mereka yang benar-benar membutuhkan namun disalahgunakan dengan tujuan mengikuti gaya hidup (life style), akhirnya para politisi global melihat narkoba sebagai salah satu instrument yang mampu membantu pencapaian visi dan misi mereka dalam menghegemoni negara-negara lain. Lalu mengapa narkoba yang dipilih sebagai instrument? Apakah ada pola keterhubungan antara penyalahgunaan dan penyebaran narkoba dengan ketahanan nasional?

Baca Juga :  Peranan Ulama dalam Negara Demokrasi : Antara Otoritatif dan Otoriter

 

Bahaya Narkoba dan Kesadaran Politik Warga Negara

Tertangkapnya berbagai upaya penyelundupan narkoba yang beratnya mencapai puluhan ton mengandung tiga pesan penting kepada kita selaku warga negara. Pertama bahwa jumlah konsumen narkoba di Indonesia sangatlah banyak. Sangat tidak logis jika pengguna sedikit namun barang yang dikirim begitu banyak apalagi mengingat narkoba sebagai barang yang dilarang di Indonesia. Pengiriman narkoba dalam jumlah yang besar adalah untuk memenuhi kebutuhan yang besar pula. Penemuan puluhan ton barulah asumsi mengenai jumlah narkoba yang sebenarnya masuk ke Indonesia, jumlah narkoba yang tidak diketahui atau disita oleh Bea Cukai tentu tidak diketahui jumlahnya dan sangat mungkin jumlahnya lebih besar dari yang didapat melalui penangkapan.

Kedua bahwa penyelundupan narkoba yang semakin gencar menandakan bahwa ketahanan nasional kita masih belum maksimum. Dari tahun ke tahun sejatinya ketahanan nasional terus ditingkatkan baik dari segi anggaran maupun efektifitasnya. Anggaran untuk ketahanan nasional tidak bisa jika jumlahnya tetap sekian apalagi jika dikurangi, karena kelompok kejahatan termasuk jaringan narkoba akan terus meningkatkan kemampuannya untuk menembus ketahanan suatu negara, misalnya saja dengan mencari “jalur-jalur tikus” di perbatasan yang pengamanannya sangat minim atau mencari modus lain untuk mengelabui petugas. Kondisi tersebut memaksa mode pertahanan dan keamanan negara kita untuk senantiasa ditingkatkan.

Dampak Narkoba
Dampak Narkoba

Penyebarluasan dan “pengeboman” negara lewat narkoba juga menandakan bahwa komitmen bangsa kita untuk memerangi narkoba masih sangat rendah. Meskipun komitmen itu telah ditunjukan oleh didirikannya Badan Narkotika Nasional (BNN) yang seharusnya bernama Badan Anti Narkotika Nasional atau Badan Pemberantasan Narkotika Nasional. Nomenklatur seperti itu nampaknya sepele, namun jika orang jeli, maka akan timbul semacam kekonyolan nomenklatur. Komitmen kebangsaan dalam memberantas narkoba untuk mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia harus lebih ditingkatkan lagi, pasalnya meskipun dibentuk banyak Lembaga negara yang focus memberantas narkoba, namun hasilnya akan nihil jika masyarakat tidak kompak dalam memerangi narkoba itu. rasa kebangsaan yang baik tentu akan memberikan kesadaran kepada siapapun bahwa tidak ada kontribusi yang diberikan narkoba dalam pembangunan bangsa ini.

Baca Juga :  Cukup Satu Periode Jadi Pemimpin di Indonesia

Konstelasi politik global yang semakin kompleks dengan berbagai instrument politik termasuk narkoba sebagai alat hegemoni suatu negara hendaknya menjadi suatu perenungan kita Bersama termasuk dalam kesadaran politik (political awwarness) yang tidak boleh dikerdilkan hanya pada ranah koalisi, sistem pemerintahan dan konsepsi yang sangat sempit. Bahaya narkoba terhadap kedaulatan negara haruslah menjadi salah satu variable atau bahan kajian dalam diskursus mengenai kesadaran politik warga negara.

 

Narkoba sebagai Pilihan Rasional

Jika kita menganggap bahwa terlalu jauh tarikan antara narkoba dengan intergritas nasional, maka kita harus memandang lebih dalam mengenai konsepsi ketahanan nasional itu sendiri. Ketahanan nasional tidak melalu berbicara soal factor-faktor yang statis saja seperti letak geografis suatu negara serta sumber daya alam saja, namun juga berbicara soal moral nasional dan kekuatan militer sebagai factor yang dinamis (dynamic factor). Ancaman narkoba termasuk pada kajian mengenai moral nasional yang mana narkoba berfokus pada degradasi moral bangsa. Beberapa waktu yang lalu, layer kaca menampilkan bagaimana ada wakil rector dan dekan yang kedapatan menggunakan narkoba, ada hakim yang menggunakan narkoba dan pelajar yang menggunakan narkoba. Kini jumlah pengguna narkoba di Indonesia telah melebihi 5 juta pengguna yang mayoritas penggunanya adalah generasi muda.

Kita tidak perlu menunggu puluhan tahun untuk melihat dampak yang ditimbulkan oleh narkoba, beberapa tahun saja sudah terlihat bagaimana dampaknya. Generasi muda menjadi incaran dari para politisi yang ingin menghegemoni negara ini karena generasi muda adalah mereka yang akan meneruskan estafeta kepemimpinan bangsa serta mengisi posisi-posisi penying di kemudian hari, upaya pelemahan moral nasional semakin Nampak dengan meningkatkan target yang lebih muda yakni anak-anak dengan tersebarnya banyak permen narkoba. Artinya “musuh” kita secara sistematis telah menyiapkan kuburan untuk bangsa kita. Artinya narkoba bukan lagi hanya dipersepsikan sebagai barang dagangan atau komoditas ekoomi saja, namun merupakan ancaman yang bersifat non militer.

Baca Juga :  Refleksi Sumpah Pemuda : Melawan Neo-Kolonialisme-Imperialisme

Degradasi Moral Nasional melalui narkoba akan terus digencarkan oleh orang-orang atau kelompok-kelompok yang berkepentingan menguasai negara ini. Pengguna narkoba berdasarkan latar belakang penggunaannya hanya ada dua kelompok saja, pertama adalah kelompok yang menjadikan narkoba sebagai obat baik itu obat penenang, obat tidur, dunia medis maupun dopping bagi mreka yang bekerja berat dan padat. Kelompok kedua adalah mereka yang dalam hidupnya frustasi dan kebanyakan pengguna narkoba karena frustasi. Hal ini menggambarkan bahwa angka pengguna narkoba yang besar di Indonesia menandakan bahwa sangat banyak pula generasi bangsa yang mengalami frustasi, baik frustasi dalam internal keluarga ataupun frustasi secara nasional misalnya karena kesulitan mencari kerja, kegagalan dalam karir, pendidikan atau politik dan lainnya. Dengan demikian narkoba tidak cukup diberantas, namun harus dicegah. Pencegahan narkoba bukan hanya dengan menangkap pengiriman narkoba, namun juga dengan menjauhkan generasi muda khususnya dari pergaulan yang tidak baik serta dari rasa frustasi sebagai warga negara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *