Ideologi Partai Amatiran

Oleh : Asep Ikbal
Pengurus Badan Koordinasi HMI Jawa Barat
Ringkasan Opini :
  • Suatu partai politik didirikan sebagai wujud dari polarisasi kepentingan sekelompok masyarakat yang memiliki cita-cita dan tujuan, sehingga partai politik sebagai alat perjuangan harus mampu membawa masyarakat menuju kesejahteraan atau membawa kesejahteraan menuju masyarakat.
  • Pada dasarnya inti dari setiap tindakan politik adalah kepentingan untuk menciptakan keadilan dan kemajuan kehidupan rakyat suatu negara, namun dewasa ini, para politikus khususnya para elit partai politik telah mengkerdilkan makna kepentingan sebagai suatu kepentingan yang bersifat fragmatis dengan berbagai tindakan dan keputusan politik, sehingga masyarakat menilai bahwa sesungguhnya telah terjadi degradasi kepentingan dari kepentingan umum menuju kepentingan golongan yang lebih kecil
  • Ideologi dan platform partai politik tidak lagi dijadikan sebagai suatu hal yang sangat substansial dalam implementasinya dan hanya dijadikan dasar yang ditulis di AD/ART partai, sehingga antara satu partai dengan partai lainnya tidak terjadi perbedaan yang signifikan seperti halnya Republik dan Demokras di AS, Selain itu parpol di Indonesia dalam berkoalisis maupun beroposisi bukan karena ideologi melainkan berdasarkan fragmatisme
.

Menjamurnya partai politik ditengah-tengah demokratisasi Indonesia yang kian gencar menjadi indicator bahwa demokrasi yang idengungkan benar-benar terjadi, karena partai politik merupakan salah satu pilar demokrasi. Namun pada hakikatnya, partai politik merupakan dibentuk oleh sekelompok orang yang memiliki cita-cita dan gagasan yang sama, sehingga menjadi wadah atau alat perjuangan untuk mewujudkan cita-cita tersebut dengan disusunnya platform atau dasar perjuangan suatu organisasi partai politik. Namun dewasa ini, dinamika politik lebih memberikan gambaran kepada masyarakat mengenai kekuasaan daripada ideologi dari suatu konsepsi politik, padahal partai politik memiliki salah satu fungsi yang cukup penting yakni pendidikan politik agar masyarakat dapat lebih memahami secara baik mengenai kepentingan yang diperjuangkannya. Akhir-akhir ini partai politik mengalami distorsi ideologi dan kepentingan (interest) dijadikan sebagai landasan utama daripada ideologi partai. Mengapa hal tersebut dapat terjadi? Apakah koalisi partai politik yang hanya didasarkan atas kepentingan itu baik? Bagaimana Indonesia dapat lebih dewasa dalam berpolitik dan berdemokrasi dengan tetap mempertahankan jati diri?

Baca Juga :  Ini Persiapan Delegasi Indonesia Jelang Puncak APICTA 2017

 

Politik adalah Kepentingan

Ada sebuah ungkapan yang tidak asing lagi khususnya bagi mereka yang dekat dunia politik bahwa di dalam politik tidak ada kawan yang sejati, tidak ada pula kawan yang sejati, namun yang sejati hanyalah kepentingan. Kepentingan (interest) adalah kata yang tidak boleh kita kerdilkan maknanya, karena pada perkembangan yang terjadi, kepentingan dalam politik selalu diidentikan dengan segala sesuatu yang bersifat fragmatis. Kepentingan adalah dasar perjuangan termasuk yang harus dimiliki oleh partai politik. Mengapa partai politik didirikan? Karena ada kepentingan yang harus diperjuangkan dan setiap perjuangan memerlukan wadah, instrument atau alat perjuangan agar lebih efektif dan efisien dalam pencapaian tujuannya. Lalu bagaimana dengan pandangan sekelompok orang yang berpikir bahwa seharusnya tidak perlu ada partai politik? Jika diibaratkan masyarakat suatu kampung sangat memerlukan makan, namun di daerah sekitarnya sedang terjadi kemarau Panjang sehingga tidak ada lagi yang bisa dimakan. Makanan itu ada di suatu daerah yang berjarak ratusan kilometer. Pertanyaannya apakah kita memerlukan kendaraan untuk membawa makanan-makanan itu? ataukah mungkin jika dilakukan dengan menggunakan kuda atau berjalan kaki? Sebenarnya sah dan mungkin saja dengan berjalan kaki dapat melakukan pengambilan makanan itu, namun butuh berapa lama dan berapa banyak orang melakukannya? Artinya bahwa partai politik adalah kendaraan yang dibuat untuk mengangkut masyarakat menuju kesejahteraan atau mengangkut kesejahteraan menuju masyarakat dan jika partai politik tidak berjalan, maka politik akan berjalan sangat lamban dan mungkin stagnan karena pada hakikatnya mesin dari politik suatu negara demokrasi adalah partai politik.

Namun pengkerdilan makna dari “kepentingan” nampaknya bukan dilakukan oleh masyarakat, karena masyarakat hanya mempersepsikan dari para gladiator di gelanggang politik. Politisi khususnya praktisi partai politik yang sangat sering melakukan pengambilan keputusan yang hanya berdasarkan atas kepentingan sesaat (short interest) menjadikan masyarakat ilfeel. Padahal pada prinsipnya kepentingan yang harus diperjuangkan oleh para praktisi partai politik adalah kepentingan kelompoknya berdasarkan basis ideologi yang telah ditetapkan. Artinya sangat tidak logis jika kepentingan suatu partai di daerah yang satu dengan daerah yang lain berbeda-beda, karena platform dan ideologi partainya harus sama, jika suatu partai di satu daerah bertentangan dengan partai semut, namun di daerah lain bermesraan dengan partai semut. Lalu sesungguhnya yang mana lawan dari partai tersebut jika dipandang dari persfektif ideologi?

Baca Juga :  Menjaga Pemuda Indonesia dari Narkoba dan Miras Oplosan
Ideologi Partai Amatiran
Ideologi-Partai-Amatira

Kepentingan rakyat semakin hilang dalam tingkatan politik yang semakin tinggi. Rakyat hanya diambil suaranya ungtuk menindas rakyat itu sendiri. Artinya bahwa dalam praktek berdemokrasi, kita masih menjalankan praktek saling tipu-menipu agar mendapatkan legitimasi. Kekuasaan adalah model yang sangat besar dalam merubah suatu keadaan, sehingga pertarungan politik adalah proses memperebutkan kekuasaan, namun menjadi ironis manakala kekuasaan yang sejatinya digunakan dalam mencapai cita-cita Bersama justru dalam perjalanannya dikerdilkan hanya untuk menjadi pemuas hawa nafsu segelintir kecil orang yang berdiri dengan menginjak banyak kepala dibawahnya. Dengan demikian yang berbahaya dari politik saat ini tanpa memandang apapun partainya adalah degradasi kepentingan dari kepentingan yang besar dan luas menjadi kepentingan kecil dan sempit.

 

Partai Amatiran Gagap Berideologi

Di Amerika Serikat sebagai negara yang menghembuskan angina demokrasi ke seluruh penjuru dinia tidak memiliki partai yang banyak melainkan hanya dua partai saja yakni Partai Demokrat dan Partai Republik. Namun diantara keduanya memiliki corak, karakteristik dan ideologi perjuangan yang sama sekali berbada secara mendasar, namun bagaimana jika kita memandang partai politik di Indonesia? Meskipun jumlah partainya puluhan, namun masyarakat sukar membedakan satu partai dengan partai lainnya, hal ini dikarenakan oleh krisis ideologi dalam partai politik sehingga menghasilkan kebiasan identitas parpol. Kebiasan partai politik baik dari visi misi hingga corak partai dikarenakan oleh keengganan untuk menjadikan ideologi sebagai dasar dalam merumuskan perjuangan. Dasar pembentukan partai tidak dilandasi oleh ideologi perjuangan, sehingga partai politik hidup bagaikan mumi yang makan sana makan sini agar mengikuti pengaruhnya demi memperluas kekuasaannya.

Partai mumi adalah partai amatiran yang gagap dalam berideologi dan berpolitik secara prinsipil. Akibatnya arah gerak partai menjadi tidak terarah seperti halnya orang yang sedang mabuk. Akibatnya adalah ghirah atau semangat perjuangan partai politik tidak lagi tercermin dalam aktivitas sehari-hari, misalnya perkaderan yang sejatinya menjadi ruh aktivisme partai politik, sehingga mampu menciptakan kader-kader ideologis yang loyal dan dan memiliki kapasitas sebagai kader partai. Namun semua itu seakan menjadi sirna manakala kepentingan elit partai lebih besar daripada kepentingan partai itu sendiri. Artinya bahwa dewasa ini, partai politik dimiliki dan dikuasai oleh seseorang atau sekelompok orang saja. Misalnya saja di PDIP kita mengenal Megawati soekarno Putri, Di Partai Demokrat kita mengenal ada Susilo Bambang Yudhoyono, di Partai Gerindra kita mengenal ada Prabowo Subianto. Artinya arah gerak partai adalah manifestasi dari pemikiran dalam kepala pemilik partai. Bagaimana jika para kepala partai itu bertemu?

Baca Juga :  Menjadi Pemilih Cerdas di Pilkada 2018

Itulah yang kemudian menimbulkan pemikiran baru dimana politik dijalankan dengan sistem kartel. Jika kepala-kelapa partai itu bertemu dan memiliki frekuensi kepentingan yang sama dalam arti saling menguntungkan, maka tidak ada lagi diskursus ideologi disana. Salah satu fenomena yang baru-baru ini adalah romantika politik partai A yang dianggap sebagai musuh nyata partai B, namun nyatanya partai A dan partai B berkoalisis dalam berbagai pemilihan kepala daerah baik pemilihan bupati dan wakil bupati, pemilihan walikota dan wakil walikota serta pemilihan gubernur dan wakil gubernur.  Seharusnya masyarakat lebih cerdas melihat ini dan jangan terlalu berharap dengan partai amatiran yang tidak memiliki ideologi dan hanya memiliki kepentingan para elitnya. Andaikata partai-partai yang menjadi primadona masyarakat adalah benar tetap konsisten dalam berjuang baik yang berideologi atas dasar ketuhanan, nasionalisme maupun lainnya, maka akan konsisten pula menjadikan musuh adalah lawan politik dan kawan adalah koalisi politik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *