Urgensi Pendidikan Politik Bagi Siswa Dalam Menyongsong Indonesia Emas 2045

MATANGASA– Politik yang dewasa ini tumbuh selalu dihadirkan seperti sosok binatang buas yang harus dijauhkan dari anak-anak karena dianggap begitu berbahaya. Kira-kira demikianlah paradigma yang banyak terbangun dalam pemikiran sebagian besar orang termasuk para praktisi pendidikan, sehingga terpolarisasi menjadi suatu dalil yang menghendaki adanya sekularisasi antara politik praktis dengan dunia pendidikan khususnya sekolah. Sementara itu, khususnya tingkat SLTA yang notabene siswanya sudah memiliki hak pilih serta sudah menjadi pemuda sebagaimana diatur dalam UU tentang Kepemudaan, maka praktisi pendidikan memiliki peranan penting dalam menyelenggarakan pendidikan politik di sekolah. Lalu bagaimana pendidikan politik tersebut harus dilaksanakan? Mengapa pendidikan politik harus dilaksanakan di sekolah sejak dini? Apa korelasinya dengan Indonesia Emas tahun 2045?

Hal pertama yang harus kita tanamkan sebagai pendidik adalah tidak mendefinisikan “politik” sebagai sesuatu yang sempit, terbatas soal pemilihan umum dan intrik-intrik. Pada hakikatnya politik telah lahir sebelum kata “politik” itu sendiri ada. Manusia sudah berpolitik sejak dilahirkan. Adapun sistem negara, demokrasi, partai politik dan sebagainya, tidak lebih hanya merupakan respon atas kebutuhan-kebutuhan politis individu yang terpolarisasi untuk hidup bersama sebagai masyarakat. Inti politik adalah semakin tumbuhnya pemikiran seseorang sehingga dapat bergaul sebagai bagian dari suatu komunitas serta memiliki kesadaran atas peran dan fungsinya sebagai warga negara. Artinya bahwa politik memiliki makna yang komprehensif sebagai filosofi pergaulan sebagai warga negara dan warga dunia.

Pendidikan politik bagi siswa bukan berarti harus menjadikan siswa sebagai politisi, namun bagaimana siswa dapat memiliki kesadaran serta kecerdasan yang utuh sebagai warga negara dan warga dunia. Para peserta didik yang sekarang duduk di bangku SMA dengan kisaran usia 15-19 tahun merupakan para calon pemimpin di tahun 2045 yanag mana usianya nanti antara 41-45 tahun yang merupakan usia produktif dan ideal sebagai seorang pemimpin. Artinya mengapa sekolah perlu menyelenggarakan pendidikan politik terhadap siswa sejak sekarang, karena mereka adalah generasi yang secara serius harus dipersiapkan dari sekarang.

Baca Juga :  Palangkaraya, Kalimantan Tengah sebagai Ibu Kota Indonesia yang Baru?

Indonesia emas 2045 sebagai suatu cita-cita kegemilangan bangsa Indonesia akan sangat sulit terealisasi jika tidak lahir para pemimpin yang memiliki integritas. Dengan demikian tugas kita sebagai guru adalah mempersiapkan pemimpin masa depan yang memiliki karakter religius, mandiri, nasionalis serta memiliki kecerdasan sehingga dapat berpikir secara kritis dalam menuntaskan masalah-masalah kebangsaan yang timbul di kemudian hari. Sebaliknya, jika sekolah gagal menghadirkan pendidikan politik berbasis Pancasila pada siswa, maka kita gagal mempersiapkan calon-calon pemimpin masa depan.

Politik yang dewasa ini tumbuh selalu dihadirkan seperti sosok binatang buas yang harus dijauhkan dari anak-anak karena dianggap begitu berbahaya. Kira-kira demikianlah paradigma yang banyak terbangun dalam pemikiran sebagian besar orang termasuk para praktisi pendidikan, sehingga terpolarisasi menjadi suatu dalil yang menghendaki adanya sekularisasi antara politik praktis dengan dunia pendidikan khususnya sekolah. Sementara itu, khususnya tingkat SLTA yang notabene siswanya sudah memiliki hak pilih serta sudah menjadi pemuda sebagaimana diatur dalam UU tentang Kepemudaan, maka praktisi pendidikan memiliki peranan penting dalam menyelenggarakan pendidikan politik di sekolah. Lalu bagaimana pendidikan politik tersebut harus dilaksanakan? Mengapa pendidikan politik harus dilaksanakan di sekolah sejak dini? Apa korelasinya dengan Indonesia Emas tahun 2045?

Hal pertama yang harus kita tanamkan sebagai pendidik adalah tidak mendefinisikan “politik” sebagai sesuatu yang sempit, terbatas soal pemilihan umum dan intrik-intrik. Pada hakikatnya politik telah lahir sebelum kata “politik” itu sendiri ada. Manusia sudah berpolitik sejak dilahirkan. Adapun sistem negara, demokrasi, partai politik dan sebagainya, tidak lebih hanya merupakan respon atas kebutuhan-kebutuhan politis individu yang terpolarisasi untuk hidup bersama sebagai masyarakat. Inti politik adalah semakin tumbuhnya pemikiran seseorang sehingga dapat bergaul sebagai bagian dari suatu komunitas serta memiliki kesadaran atas peran dan fungsinya sebagai warga negara. Artinya bahwa politik memiliki makna yang komprehensif sebagai filosofi pergaulan sebagai warga negara dan warga dunia.

Baca Juga :  Menebus Suara Dalam Pilkada

Pendidikan politik bagi siswa bukan berarti harus menjadikan siswa sebagai politisi, namun bagaimana siswa dapat memiliki kesadaran serta kecerdasan yang utuh sebagai warga negara dan warga dunia. Para peserta didik yang sekarang duduk di bangku SMA dengan kisaran usia 15-19 tahun merupakan para calon pemimpin di tahun 2045 yanag mana usianya nanti antara 41-45 tahun yang merupakan usia produktif dan ideal sebagai seorang pemimpin. Artinya mengapa sekolah perlu menyelenggarakan pendidikan politik terhadap siswa sejak sekarang, karena mereka adalah generasi yang secara serius harus dipersiapkan dari sekarang.

Indonesia emas 2045 sebagai suatu cita-cita kegemilangan bangsa Indonesia akan sangat sulit terealisasi jika tidak lahir para pemimpin yang memiliki integritas. Dengan demikian tugas kita sebagai guru adalah mempersiapkan pemimpin masa depan yang memiliki karakter religius, mandiri, nasionalis serta memiliki kecerdasan sehingga dapat berpikir secara kritis dalam menuntaskan masalah-masalah kebangsaan yang timbul di kemudian hari. Sebaliknya, jika sekolah gagal menghadirkan pendidikan politik berbasis Pancasila pada siswa, maka kita gagal mempersiapkan calon-calon pemimpin masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *